Sebagai Dirut Pertamina, Massa Manik Gagal Lakukan Efisiensi

Kamis, 30 November 2017 18:51

Fahmy menjelaskan, Pertamina di era Massa Manik akan kembali gagal melakukan efisiensi karena adanya penggemukan direksi Pertamina yang tentunya membengkakan pengeluaran biaya operasional.”Tidak dinaikkannya harga BBM premium, penugasan distribusi BBM di luar Jawa, Madura dan Bali (Jamali), dan kebijakan BBM Satu Harga akan selalu menjadi kambing hitam, manakala pendapatan Pertamina mengalami penurunan drastis di era Massa Manik,” ujar dia.Penjelasan Fahmy, publik sempat terbelalak saat Vivo bisa menjual RON 89 seharga Rp 6.100 per liter, meskipun lalu naik menjadi Rp 6.300 per liter.Sementara Pertamina menjual RON 88 lebih mahal, yakni sebesar Rp 6.450. “Lalu Pertamina berteriak bahwa penurunan pendapatan Pertamina disebabkan pemerintah tidak menaikkan harga premium. Bukankah teriakan itu hanya untuk mencari kambing hitam atas ketidakbecusan Massa Manik,” ucap dia.Terpisah, Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI) Yusri Usman menambahkan, pemerintah juga mesti mengvaluasi pembelian minyak mentah dan BBM via Integrated Supply Chain (ISC) apakah masih didominasi oleh trader atau NOC.

Bagikan berita ini:
2
5
3
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar