Siklon Tropis Cempaka, Bukti Iklim Global Menuju Perubahan Esktrem

Pusat Peringatan Dini Siklon Tropis BMKG (Tropical Center Warning Center/TCWC), tepat pada Senin, 27 November 2017 pukul 19.00 WIB, berhasil mendeteksi siklon tropis yang tumbuh sangat dekat dengan pesisir selatan Pulau Jawa dengan nama “Cempaka”.

=============================
OLEH: SYAFARUDDIN
Guru Besar Konversi Energi, Departemen Teknik Elektro Unhas


=============================

SIKLON ini mengakibatkan perubahan pola cuaca yang ekstrem berupa hujan lebat, angin kencang, dan tingginya gelombang laut di sebagian besar wilayah di Indonesia. Diperlukan kewaspadaan yang tinggi dalam beberapa hari kedepan untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk yang bisa ditimbulkan bahaya siklon “cempaka” ini.

Perubahan cuaca dunia yang sangat ekstrem yang bisa menjadi ancaman nyata keberlanjutan peradaban umat manusia di masa depan.

Dalam film “The Day After Tomorrow (2004)” diceritakan tentang terjadinya bencana alam berupa air bah (tsunami) yang menyapu daratan, hujan lebat, diiringi terbentuknya cyclone angin topan yang sangat tidak umum, kemudian terjadi penurunan suhu bumi yang sangat drastis. Film ini bukan sekadar science fiction belaka, tetapi mengacu suatu teori yang dikenal paradoxical effect of global warming atau efek paradoks dari pemananasan global.

Global warming atau pemanasan global adalah terjadinya kenaikan temperatur atmosfer bumi, sehingga suhu bumi menjadi lebih hangat dibandingkan sekitar 20 tahun lalu. Hal ini disebabkan peningkatan level gas rumah kaca (greenhouse gasses) di lapisan atmosfer bumi.

Secara alami, bumi kita sebenarnya mempunyai kemampuan kontrol sistem temperatur melalui pengaturan keseimbangan alami gas rumah kaca yang terdiri atas uap air, gas carbon dioksida, ozone, methane, dan natrium oksida.

Akan tetapi, aktivitas industri dan transportasi manusia dengan polusi udara yang ditimbulkannya, mengganggu mekanisme kontrol alami tadi dan cenderung meningkatkan level gas rumah kaca. Dengan peningkatan level gas rumah kaca di atmosfer bumi, energi panas matahari yang masuk ke permukaan bumi tidak bisa dipantulkan kembali secara sempurna ke atmosfer. Energi panas yang terserap masuk seolah-olah terperangkap dalam lapisan panel kaca atau plastic, sehingga kita merasakan suhu udara yang lebih panas dari biasanya.

Mungkin kita berpikir dampak pemanasan global itu adalah bumi akan mengalami kenaikan temperatur ekstrem. Ternyata tidak demikian, bumi kita akan menuju ke kondisi dengan penurunan temperatur yang sangat drastis, terutama belahan bumi utara termasuk kawasan Amerika utara dan Eropa barat. Inilah yang disebut efek paradoks pemanasan global. Salah satu teori yang bisa menjelaskan fenomena ini yaitu teori “gulf stream”. Gulf stream adalah aliran permukaan arus samudera hangat yang bergerak dari arah selatan ke utara bumi dan bersirkulasi di samudera Atlantik. Aliran samudera inilah yang membuat dan menjaga suhu wilayah utara bumi tetap hangat pada musim dingin.

Apa yang terjadi sekarang, dengan pemanasan global terjadi pencairan es di kutub utara (Arctic) sehingga menaikkan level air di samudera Atlantik. Ketinggian air laut memblok pengaliran arus panas ini, sehingga membiarkan wilayah utara bertambah dingin. Tanpa gulf stream ini, temperatur di wilayah Eropa pada musim dingin bisa turun antara 5-10 derajat celcius dan Amerika Utara bisa lebih dingin lagi. Berdasarkan teori ini, disinyalir wilayah Amerika utara dan beberapa wilayah di Eropa akan bertransformasi ke zaman es baru, dan tidak mungkin bisa didiami manusia dalam beberapa dekade ke depan.

Tanda-tanda dari teori di atas sudah mulai terbukti dengan terjadinya perubahan iklim global yang terjadi secara ekstrem. Hal ini bisa kita lihat kondisi per region di mana terjadi anomali cuaca lain dari biasanya. Sudah tiga tahun terakhir, suhu musim dingin di Eropa mencapai titik terendah di mana mencapai -25oC. Pada musim dingin tahun lalu, untuk pertama kalinya Korea mengalami musim dingin tersulit di mana temperatur mencapai titik terendah -20oC.

Beberapa waktu lalu, kawasan Asia Tenggara (Vietnam) turun salju yang sedemikian lebatnya. Ini merupakan bencana baru umat manusia di samping tantangan penurunan dan gejolak kondisi politik dan ekonomi global.

Bagaimana dengan dampak yang terjadi wilayah equator misalnya Indonesia. Pada saat wilayah utara memasuki musim dingin, maka wilayah di equator berada pada musim penghujan ditandai dengan curah hujan yang terjadi sangat besar.

Dampak yang ditimbulkan dari curah hujan yang sangat besar, misalnya banjir, tanah longsor dengan kemungkinan terjadinya badai sangat besar. Curah hujan yang sangat besar ini disebabkan meningginya air samudera akibat pencairan es di kutub utara tadi. Artinya memang jumlah volume air di samudera sekarang jauh lebih besar dari kondisi normalnya.

Intensitas curah hujan yang besar juga disebabkan penguapan yang tinggi; di mana hal ini dipengaruhi kenaikan temperatur di wilayah selatan, yang pada saat bersamaan memasuki musim panas. Jadi bisa dikatakan, besarnya curah hujan di wilayah equator merupakan akibat akumulasi aktivitas pencairan es di kutub utara, karena meningkatnya suhu bumi dan juga karena pengaruh penguapan yang tinggi akibat musim panas di wilayah selatan.

Dampak langsung dan tak langsung pemanasan global sudah terjadi dan tidak bisa dihindari lagi. Untuk bahaya siklon tropis “cempaka” ini, masyarakat diimbau waspada dan berhati-hati terhadap dampak yang dapat ditimbulkan seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, pohon tumbang, dan jalan licin. Maka marilah kita bersiap menghadapinya. (*/fajar)

 

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Redaksi

Comment

Loading...