Jumlah Media Siber Menjamur, Tidak Sedikit yang “Ngawur”

0 Komentar

FAJAR.CO.ID — Media siber (online) menjamur di hampir semua daerah di Indonesia, termasuk Kota Makassar atau Sulawesi Selatan. Ini menimbulkan kegelisahan tersendiri, sebab tidak sedikit di antaranya yang “ngawur”.

Menurut Ketua DPRD Makassar, Farouk M Betta, menjamurnya media siber terkadang menjadi semacam mainan untuk kepentingan tertentu.

Karena itu, dia berharap adanya standar yang dimiliki setiap media siber, sehingga tak menjadi kepentingan untuk kelompok tertentu.

“Kaidah jurnalistik harus ada, sehingga tidak jadi perangkat untuk kepentingan politik praktis. Terus terang terkadang kami bingung harus mengklarifikasi ke mana jika dihantam dan merasa dirugikan. Kami terkadang juga perlu hal jawab. Saya kira memang perlu mendorong media menjadi lebih profesional,” jelas Farouk saat menjadi pembicara pada diskusi terbuka SMSI Sulsel bekerjasama DPRD Kota Makassar Kamis (14/12/2017) di Warkop Phoenam Boulevard, Makassar.

Dikatakan Farouk, melalui diskusi ini diharapkan ada pemahaman bersama media siber harus menjaga profesional untuk menjaga kepercayaan publik akan profesi jurnalis.

Farouk mengungkap bahwa generasi milenia saat ini sangat dipengaruhi oleh media sosial termasuk media siber.

Oleh karena itu, DPRD Kota Makassar saat ini telah menyediakan layanan aspirasi masyarakat secara online, yakni aplikasi Ajamma (Ajang Aspirasi Masyarakat Makassar).

“Aplikasi berbasis online ini untuk menyerap aspirasi dan keluhan masyarakat kota Makassar,” ujar Aru sapaan akrab Ketua DPRD Kota Makassar,

Meskipun demikian, terkait tema diskusi ini, Ketua DPRD Kota Makassar menuturkan bahwa kehadiran media siber tentu sangat berkonstribusi terhadap dinamika politik.

Selain Farouk, tampak hadir sebagai pembicara yakni, Denny Hidayat (Perwakilan Dinas Infokom Kota Makassar, Tamzil Tahir (Wapimred Tribun Timur), Arsyad Hakim (Pimred Harian Fajar). Diskusi kian hidup yang dipandu Anno Suparno (wartawan senior Makassar)

Sementara Pimpinan Redaksi Harian FAJAR, Arsyad Hakim, mengimbau kepada penggiat media untuk tetap menjaga profesionalitas jurnalistik agar tidak terseret oleh kepentingan sepihak.

Dikatakannya, saat ini karena sudah masuk momentum politik, baik pilgub, pilkada atau pilwali tentunya sangat menarik berita-berita tentang politik. Tetapi media tidak boleh terjerumus oleh kepentingan politik sepihak.

“Memang kita di media harus tetap mengikuti apa kemauan publik dan harus mengikuti kebutuhan pembaca yang penting tidak terseret oleh kepentingan sepihak,” jelas Arsyad Hakim.

“Kita di media harus mampu menciptakan isu politik sendiri, tidak boleh terjerumus oleh isu politik yang berkepentingan” tutupnya.

Diketahui, Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) merupakan organisasi yang konsen mengawal profesionalisme media online.

Pembicara lain, Denny Hidayat Kabid Aptika Dinas Infokom Kota Makaasar, mengatakan, saat ini menjamur media siber karena begitu mudahnya membeli domain. Masyarakat dituntut cermat memilah bacaan agar tidak gampang terprovokasi. Juga diharapkan setiap media menyajikan berita-berita berdasarkan prinsip-prinsip jurnalistik.

Wapimred Tribun Timur, Thamsil Tahir, menambahkan, tinggi pertumbuhan media siber kata dia tidak akan mempengaruhi media mainstrem sepanjang media mainstrem mempertahankan kaidah-kaidah jurnalisitiknya.

Hal menarik lainnya disampaikan Dahlan Abu Bakar, salah seorang wartawan senior di Sulsel. Menurutnya, media online atau media siber mengutamakan kecepatan. “Dan sering mengabaikan ketepatan. Ada unsur yang sering diabaikan dari 5W 1H,” akunya.

Bukan Politik

Thamzil juga mengutarakan, fenomena medsos dan media siber tak perlu dikhawatirkan. Kehadiran mereka ikut memperkaya arus informasi sampai ke masyarakat. Lebih cepat dan lebih mudah. Kerjaan rumah bagi kami adalah bagaimana menjaga profesionalisme itu dengan memperkuat konten dan memegang prinsip “trust public”.

“Pada akhirnya masyarakat sebagai pembaca akan tahu mana yang mesti mereka konsumsi. Menjamurnya media siber ini tak bisa dielakkan. Mari berkompetisi di konten berkualitas. Mohon maaf ini, kalau kami tracking penyumbang pembaca terbesar itu bukan politik, di kami konten entertaiment masih penyumbang tracfick tertinggi, jadi kalau dibilang politik bacaan panas, tidak juga buktinya pembaca gadget itu lebih suka yang sifatnya entertaimen,” bebernya. (byu/fajar)

 

 

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...