SMK Perlu Punya Mata Pelajaran Perkebunan Kelapa Sawit

Rabu, 20 Desember 2017 - 06:19 WIB

FAJAR.CO.ID — Dekan Fakultas Pertanian Institut Pertanian (INSTIPER) Yogyakarta, Ir Enny Rahayu, mengharapkan kedepan ada bidang studi khusus terkait budidaya dan manajemen perkebunan kelapa sawit pada jenjang pendidikan Sekolah Menegah Kejuruan (SMK).

Hal ini dikatakannya pada pelatihan terhadap guru-guru Sekolah Menegah Kejuruan (SMK) se-Kalimantan Tengah (Kalteng), 18/12/2017.

“Harapan kepada pemprov maupun pemkab, di SMK ada mata pelajaran (Mapel) budidaya dan manajemen perkebunan kelapa sawit. Dibentuk SMK kelapa sawit ATPKS, ada kurikulum kelapa sawit. Kemudian melalui pelatihan ini bisa menjadi bahan untuk program alih fungsi guru produktif kelapa sawit, ” katanya di sela-sela pelatihan.

Perwakilan Disdik Kobar Agus disaksikan Dekan Fakultas Pertanian INSTIPER Yogyakarta Enny Rahayu mengalungkan tanda peserta pelatihan, kemarin (18/12/2017). (Foto: HUSRIN A LATIF/KALTENG POS)

Diketahui, Kalteng meliliki banyak perkebunan kelapa sawit, bahkan di wilayah Kotawaringin hamparan sawit seperti lautan luas.

Terhadap pelatihan tersebut, kata Enny, dapat memberikan pembelajaran kelapa sawit kepada siswa khususnya dan warga lainnya.

Kaitannya dengan alih fungsi guru, kata dia, juga sangat bermanfaat, kemudian melalui kegiatan ini juga diharapkan dapat menerapkan teknik budidaya kelapa sawit.

Pemprov juga diharapkan bisa memberikan program bewasiswa berikatan dinas bagi warga Kalteng melalui kerjasama Tri Partit.

INSTIPER siap membantu untuk menyusun kurikulum dan membuat proposal ke Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).

“Kita ketahui bersama bahwa Indonesia adalah negara agraris, subur dan orang jawa bilang Gemah Ripah Loh Jinawi. Namun, ironisnya tidak ada satupun komoditas pertanian di Indonesia yang menang dalam bersaing dengan Luar Negeri, terkecuali kelapa sawit,” katanya.

Luas kebun sawit Indonesia saat ini mencapai 11,5 juta sedangkan luas kebun sawit rakyat 4,5 juta. Produktivitas hanya 45 persen dari perkebunan besar swastas (PBS).

“Ironisnya teknologi dalam managemen produksi kelapa sawit masih konvensional, ini menjadi tantangan bagi anak bangsu Indonesia. Intensifikasi, ” ujarnya.

Saat ini, lanjutnya, kelapa sawit menjadi komoditas global dan banyak ancaman seperti kampanye negatif dari kompetitor produsen minyak nabati, isu lingkungan, plasma nuftah, carbon stok, kekeringan, kebakaran dan HAM. “Efisiensi biaya dan keberlanjutan menjadi suatu keharusan dan kata kuncinya adalah SDM yang terampil dan kompeten. Banyak lulusan SMK yang menganggur, yang terserap hanya kurang lebih 30 persen. Juga dibutuhkan teknologi yang tepat dan ramah serta kelembagaan yang sehat dan mandiri,” pungkasnya. (ala/dar)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.