Diduga Sebar Foto Bugil Selingkuhannya, Anggota Dewan ini Pilih Sembunyi di Sarung

FAJAR.CO.ID, BALIKPAPAN  –  Kasus yang menjerat anggota DPRD Balikpapan Andi Walinono (AW) terus bergulir. Dengan ditutup sarung biru, Jumat (29/12) sekitar pukul 14.00 Wita, politikus Golkar itu keluar dari ruang pemeriksaan Reskrim Polres Balikpapan.

AW bungkam saat ditanya kabar dan perkara yang dihadapinya. Namun, berusaha memegang sarung di kepalanya agar tak melorot. Digiring sepanjang 20 meter berjalan kaki dari ruang penyidik ke sel tahanan Mako Polres Balikpapan, tempat AW menghabiskan malam.

Kuasa hukum AW, Yusuf Mustafa yang tampak menemani kliennya memberikan jawaban atas segala pernyataan media. Dia menyebut, AW membantah segala tuduhan yang disematkan kepadanya. Baik Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) maupun UU Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi.

Namun, dia belum bisa menjelaskan alasannya. Karena baru menemani AW siang kemarin. “Kami belum berbicara banyak. Saya sendiri baru bertemu siang ini (kemarin). Saya di sini mendapat tugas sebagai kuasa hukum dari Golkar Balikpapan untuk mendampingi semua proses hukum yang dijalani klien kami,” kata Yusuf.

Sebagai Wakil Ketua Bidang Hukum dan HAM DPD Golkar Balikpapan, Yusuf baru menerima telepon dari DPD pagi kemarin. Sejumlah hal akan dilakukan pihaknya. Termasuk upaya penangguhan penahanan. Dia yakin, kliennya tidak akan melarikan diri. Karena statusnya sebagai wakil rakyat. “Pihak keluarga, termasuk istri menjamin untuk dilakukan penangguhan penahanan. Kami upayakan ada disposisi (penangguhan) secepatnya,” harap dia.

Tim kuasa hukum yang terdiri atas lima orang dari DPD Golkar Balikpapan disebutnya akan melakukan pendalaman kasus. Mempelajari setiap pasal yang disangkakan pada kliennya. Dari proses penyidikan hingga persidangan. “Yang kami minta kepada kepolisian agar dalam menangani kasus ini mengedepankan asas praduga tidak bersalah,” sambungnya.

Soal upaya praperadilan, Yusuf belum memikirkannya. Dia yakin, melalui asas praduga tak bersalah, kasus kliennya dimungkinkan untuk dikeluarkan surat perintah penghentian penyidikan atau lazim disingkat SP3. Karena itu, dia akan berusaha untuk membebaskan kliennya dari segala tuduhan. Termasuk mempelajari laporan dari korban. “Yang jelas, kami sebagai perwakilan DPD Golkar Balikpapan semaksimal mungkin memperjuangkan klien kami,” ucapnya.

Ketua Golkar Balikpapan Rahmad Mas’ud yang ditemui setelah Aksi Bela Palestina di Kota Minyak kemarin mengamini telah memberikan bantuan hukum kepada AW. Meski telah ditetapkan tersangka, Rahmad menjelaskan, AW masih kader Golkar.

Dia menegaskan menaati hukum. Sepanjang proses hukum itu sesuai prosedur, dia tidak akan menghalangi. Tapi, kata dia, karena tersangka kadernya, maka dirinya tentu memberikan pembelaan. Semisal dengan memberikan bantuan hukum. “Sekarang biar proses hukum berjalan,” papar dia.

Apakah ada sanksi pemecatan, dia menegaskan, itu urusan nanti. Lagi pula bukan dirinya yang menentukan. Tapi dia menyebut, prosedur partai seperti itu tentu ada. Kata dia, biar mekanisme partai berjalan.

Rahmad menegaskan, hingga saat ini, tersangka tidak dinonaktifkan. Sebab, dia memakai asas praduga tak bersalah. Jadi, tersangka tetap kerja dan digaji. “Sebelum ada keputusan berkekuatan hukum tetap, kami tidak akan ambil langkah pergantian antarwaktu (PAW),” tegas wakil wali kota Balikpapan itu.

Senada, Sekretaris Golkar Kaltim Abdul Kadir menyebut, penonaktifan AW sebagai kader yang berlanjut ke PAW harus melalui serangkaian aturan dan tata tertib. Karena itu, dia segera membentuk tim yang bisa memutuskan masa depan AW. “Terlepas dari tim kuasa hukumnya. Di mana saya belum dapat laporan soal itu,” ucapnya saat ditanya soal bantuan hukum yang diberikan Golkar Balikpapan ke AW kemarin.

Dikonfirmasi terpisah, Kapolres Balikpapan AKBP Wiwin Firta memastikan telah menahan AW sebagai tersangka sejak kemarin. Ini berdasarkan pertimbangan penyidik setelah memegang dua alat bukti. Yakni, dua gambar perempuan telanjang yang diidentifikasi sebagai korban pelapor yang diambil dari ponsel AW. Juga, keterangan dari 12 saksi. Khususnya satu saksi yang diduga menerima langsung kiriman foto bugil korban.

“Setelah tahu dirinya dilaporkan, tersangka langsung menghapus semua bukti di ponselnya. Namun, berkat bantuan tim dari Kementerian Komunikasi dan Informatika, kami berhasil mendapatkan dua potret seorang perempuan 21 tahun yang merupakan pelapor,” jelas Wiwin.

Dijelaskan, dalam foto itu, korban diambil gambarnya secara diam-diam dalam kondisi tanpa busana. Dilakukan di kamar hotel berbintang di kawasan Jalan Jenderal Sudirman dengan tarif minimal Rp 920 ribu per malam menjelang akhir pekan.

“Kejadiannya sekitar Januari lalu. Di mana antara tersangka dan korban memang menjalin hubungan layaknya kekasih. Kemudian, korban merasa tidak terima fotonya disebar dan dipertontonkan oleh tersangka kepada teman tersangka,” ujarnya. AW diduga mengabadikan tubuh perempuan tersebut saat keduanya melakukan hubungan badan.

Korban pun melaporkan tindakan AW ini kepada Polres Balikpapan Maret lalu. Alasan lamanya penanganan ini, kata Wiwin, karena dalam prosesnya, AW beberapa kali mangkir dalam sejumlah pemanggilan. Selain itu, karena proses forensik untuk mendapatkan barang bukti. “Dalam proses penyidikan ada yang dipanggil sekali datang, ada yang tidak dengan alasan-alasan. Sehingga proses jadi panjang,” paparnya.

Dua hari lalu, kabar tak sedap datang dari wakil rakyat di Kota Minyak. Seorang anggota DPRD Balikpapan ditahan dan ditetapkan tersangka. Anggota dari Fraksi Golkar berinisial AW diduga telah melanggar Pasal 27 Ayat (1) UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang ITE dengan ancaman hukuman penjara paling lama 6 tahun. Selain itu, AW dijerat dengan Pasal 29 UU Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi dengan ancaman hukuman paling singkat 6 bulan dan paling lama 12 tahun. (*/rdh/*/hdd/rom/k8)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Redaksi M1

Comment

Loading...