Pakar Ini Sebut Demiz Tak Tersandera Isu Pilpres 2019 di Pilkada Jabar, tapi..

FAJARCO.ID, JAKARTA – Isu penarikan dukungan Partai Gerindra, PAN dan PKS dari Deddy Mizwar (Demiz) di Pilgub Jawa Barat ditengarai, adanya kesepakatan politik antara Demiz dan Partai Demokrat.

Seperti diisukan, Demiz telah menyepakati pakta integritas bersama Demokrat di Pilgub Jabar. Salah satu poin yang menjadi sorotan publik adalah, ‘Siap menjalankan mesin partai pada Pemilihan Presiden/Wakil Presiden 2019 yang diusung oleh partai Demokrat’.

Poin ini yang menjadi masalah utama dalam penarikan dukungan dari tiga partai ini. Bahkan, Demiz dikatakan tersandera pada isu Pilpres 2019.

Pengamat politik Network for South East Asian Studies (NSEAS) Muchtar Effendi Harahap menilai, anggapan Demiz tersandera isu Pilpres 2019 tidak faktual dan rasional, meski ada anggapan tersebut berseliwerang di publik.

“Pendapat saya, anggapan itu tidaklah faktual dan rasional,” kata Muchtar Efendi kepada Fajar.co.id, Selasa (2/1).

Menurut dia, isu politik cukup meningkat menjelang Pilkada serentak 2018, karena mendapat perhatian besar dari publik. Sebab, Pilkada serentak ini dianggap sebagai awal dari pertarungan dua kekuatan besar dalam meraih jabatan Presiden atau Wakil Presiden di 2019.

“Jadi, salah satu sebabnya itu, Pilkada serentak ini dipahami publik sebagai pertarungan awal antar dua kekuatan, atau lebih dalam meraih jabatan Presiden dan Wakil Presiden 2019 nanti,” ucapnya.

Lanjut Muchtar Efendi, sebagai isu politik, boleh saja anggapan ada calon Gubernur tersandera dengan hal itu. Namun, hal itu tak sepenuhnya dibenarkan, karena ada perhitungan matang yang dilakukan oleh partai politik, seperti yang terjadi kepada Demiz. Dimana, tiga partai koalisi Gerindra, PKS dan PAN yang menarik dukungan, dan mendukung Sudrajat-Ahmad Syaikhu.

“Sebagai isu politik boleh saja kita mengakui anggapan ada Bacalon Gubernur tersandera itu. Namun, saya memahami pilihan Koalisi Gerindra, PKS dan PAN atas Sudrajat, bukan Dedy Mizwar, sangat tepat, layak dan rasional,” jelasnya.

Keputusan tiga partai ini beralih ke Sudrajat-Syaikhu ketimbang Deddy Mizwar tak lepas dari keunggulan sang calon Gubernur. Sudrajat sendiri berasal dari mayoritas suku bangsa lokal (Sunda-red), dan Sudarajat adalah pensiunan TNI yang sangat bersih dimata warga Jabar.

“Sudrajat lebih unggul dalam perolehan suara, karena secara sosiologi politik dan perspektif prilaku pemilih, Sudrajat berasal dari mayoritas suku bangsa lokal, Sunda. Dia juga mantan perwira militer yang dimata masyarakat Jabar keberadaan militer dalam politik cenderung positif,” jelasnya.

Buat pengamat asal Sumatera Utara ini, Deddy Mizwar tidak tersandera pada isu Pilpres 2019, tetapi pilihan kepada Sudrajat di Pilgub Jabar sangat layak, tepat dan rasional dalam perspektif sosiologi politik.

“Intinya, Dedi Mizwar tidak disandera, tetapi pilihan terhadap Sudrajat lebih layak, tepat dan rasional dalam perspektif sosiologi politik dan perilaku pemilih Jawa Barat,” kuncinya. (Aiy/Fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : RBA

Comment

Loading...