Begini Kronologi Oknum Polisi Brigadir Jumadi Rampok Uang 10 Miliar yang Dikawalnya

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, BANJARMASIN – Tak sampai 24 jam, jajaran Polda Kalsel meringkus dua pelaku perampokan uang Bank Mandiri Cabang Tanjung sebanyak Rp10 miliar, Jumat (5/1) kemarin.

Lokasinya di dua tempat berbeda. Salah satu pelaku adalah oknum anggota polisi yang bertugas di Polres Tabalong. Atas nama Brigadir Jumadi, NRP 86030450.

Jumadi dicokok di salah satu rumah saudaranya di Kompleks Puritama III Landasan Ulin, Banjarbaru pada pukul 09.00 Wita. Sebelumnya, jajaran Polda Kalsel yang dipimpin Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Kalsel Kombes Pol Sofian Hidayat meringkus terlebih dulu pelaku lain atas nama Yongki Susanto alias Jawa di Desa Cakung, Kecamatan Murung Pudak, Kabupaten Tabalong pada pukul 05.00 Wita.

Di sekitar belakang rumah saudara Jumadi, tak jauh dari septic tank uang hasil rampokan ditemukan dikubur tersangka. Meski demikian, uang yang ditemukan ketika itu hanya sebesar Rp 4,6 miliar. Padahal, laporan yang masuk ke polisi, uang yang dirampok pelaku totalnya sebesar Rp 10 miliar.

Kapolda Kalsel, Brigjen Rachmat Mulyana menjelaskan kejadian yang mencoreng nama institusi Polri ini bermula Kamis sehari sebelumnya. Pukul 06.30 Wita, Gugum sopir Bank Mandiri menghubungi Jumadi untuk mengawal pengambilan uang di Kantor Bank Mandiri Cabang Banjarmasin. Jumadi mengiyakan.

Sekitar pukul 07.30 Wita, dia menghubungi anggota Polres Tabalong untuk pinjam pakai senjata api, serta izin tidak  pelaksanakan apel karena tengah melaksanakan giat pengawalan bank.

Sekitar pukul 08.15 Wita, pelaku bersama Gugum dan salah seorang karyawan Bank Mandiri Cabang Tanjung bernama Atika berangkat dari Polres Tabalong menuju Banjarmasin dengan menggunakan Toyota Avanza hitam berpelat nomor DD 1182 KE.

Ketiganya baru tiba di Bank Mandiri Cabang Banjarmasin di Jalan Pangeran pada pukul 14.00 Wita. Atika dan Gugum masuk ke bank untuk mengambil uang yang terdiri dari pecahan Rp 100 ribu sebanyak Rp 6 miliar, pecahan Rp 50 ribu senilai Rp 4 miliar, dan pecahan USD 100 sebanyak USD 25 ribu.

Usai mengambil uang tersebut, sekitar pukul 14.30 Wita ketiganya kembali menuju ke Tabalong. Ketika itu, mereka bermaksud mampir makan siang di RM Wong Solo sekitar Bundaran Banjarbaru. Namun, Jumadi menyarankan untuk makan siang di Soto Anang Martapura. Keputusan akhir makan di RM Wong Solo.

Usai menyantap makan siang, mereka pun persiapan melanjutkan perjalanan ke Tabalong. Tanpa diduga naik laki-laki berkulit hitam, berambut ikal, gempal, berbaju kaos yang diketahui bernama Yongki alias Jawa. Yongki ikut dengan alasan mengambil sesuatu di Martapura. Mobil mengarah ke Polsek Martapura Kota.

Alih-alih menuju Tabalong, ternyata mobil menuju ke lokasi sepi di kawasan Jembatan Martapura. Ketika itu Jumadi langsung menodongkan pistol kepada Gugum yang asyik menyetir.

Di kursi belakang, Yongki tak diam. Dia menjerat Atika dengan lakban. Hingga keluar kalimat ancaman. “Turuti saja perintah Jumadi. Kalau tidak, saya bolongin kamu,” kata pelaku dengan logat Tabalong yang kental.

Kedua korban diikat. Gugum diborgol hingga mata dan mulutnya dilakban. Begitu pula Atika, kedua belah tangan dan kakinya juga diikat dengan lakban. Posisi sopir pun berganti. Gugum diperintahkan pindah ke samping, dan yang menjadi sopir adalah Jumadi.

Di beberkan Rachmat, korban sempat beberapa kali melihat melalui celah lakban dan mengetahui kendaraan berbalik arah menuju Banjarmasin. Ini diyakini korban karena melihat Bandara Syamsudin Noor, dan melewati Bundaran Liang Anggang, serta suara bunyi kendaraan besar yang melintas.

Korban pun beberapa kali mendengar kegiatan para pelaku. Sekitar 15 menit setelah bergerak ke arah Banjarmasin, pelaku turun keluar dari mobil. Kemudian, obrolan telepon Jumadi yang beberapa kali menyatakan bahwa tempatnya masih ramai. Pelaku beberapa kali mengeluarkan uang dari bagasi belakang yang diduga dipindah ke kendaraan lain.

Mengibuli agar aparat tak dapat mengendus, pelaku cukup pintar. Para korban ditinggalkan di Jalan Trikora, Banjarbaru. Sedangkan mobil yang membawa mereka dari Tabalong ditinggalkan di Jalan Gubernur Subarjo, atau Jalan Lingkar Selatan Banjarmasin. “Setelah itu pelaku berpencar, ada yang ke Banjarbaru, ada pula ke Tabalong,” terang Rachmat.

Kapolda terlihat geram dengan kasus ini. Jenderal bintang satu ini dengan tegas meminta untuk tidak diinisialkan pelaku Jumadi ini.

“Biasanya didor, kami juga perintahkan untuk dipecat. Tentu setelah perkara utamanya selesai melalui sidang kode etik,” ucapnya.

Dia juga menyayangkan terjadi kesalahan SOP terkait pengawalan yang tak menggunakan surat tertulis. Seharusnya ketika meminta pengawalan untuk pengambilan uang yang besar tak hanya lewat telepon. “Ini menjadi pembelajaran, dan akan saya evaluasi,” tegas Rachmat.

Lalu, kapan sisa uang hasil rampokan tersebut diungkap? Kapolda mengaku masih mengembangkan kasus ini. “Untuk uang sisanya, ini masih dikembangkan. Kami masih memang belum periksa lebih mendalam, dan ini akan dikembangkan di mana uang sisanya,” tegasnya.

Head Area Bank Mandiri Banjarmasin, Adi Mulya mengapresiasi gerak cepat polisi yang berhasil mengungkap kasus ini kurang dari 1×24 jam. “Ini tentu menjadi prestise tersendiri. Kami sangat berterima kasih sekali,” ujar Adi. Dia menyatakan, besaran uang yang dirampok pelaku sebesar Rp 10 miliar. “Uang asing tak ada. Semua uang pecahan Rupiah,” ungkapnya. Keterangan ini berbeda dengan adanya pecahan USD 100 sebanyak USD 25 ribu.(mof/ma/dye)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...