Didakwa Miliki Sabu Setengah Kilo, Febri Lolos dari Tuntun 17 Tahun Penjara

Sabtu, 20 Januari 2018 - 10:29 WIB

FAJAR.CO.ID, SAMARINDA- Tim kuasa hukum yang ditunjuk secara prodeo (disiapkan negara) berhasil membantu Febriadi alias Febi (23), lolos dari jeratan hukum, Kamis (18/1) siang kemarin.
Tim kuasa hukum yang mendampingi Febri berhasil meyakinkan hakim yang dipimpin Rustam, didampingi hakim anggota Budi Santos dan Lucius, bahwa mantan pembalap tersebut tak bersalah.
Padahal jika menilik penerapan pasal dan tingginya tuntutan hukuman yang disampaikan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) Kaltim, mustahil Febri lolos dari jeratan hukum. JPU menuntut agar Febri dijatuhi hukuman 17 tahun penjara dikurangi selama dia berada dalam tahanan. Selain itu Febri juga diharuskan membayar denda Rp 1 miliar subsider 1 tahun penjara sesuai surat tuntutan register perkara nomor: PDM-763/SMD/2017.

JPU menuntut hukuman tinggi karena beranggapan perbuatan Febri terbukti melanggar pidana sebagai mana diatur dalam pasal 112 ayat 2 UU Nomor 35 Tahun 2009 atas kasus kepemilikan sabu seberat 500 gram atau setengah kilogram.

“Banyak kejanggalan dalam perkara ini yang terungkap dalam fakta persidangan. Kami sangat mengapresiasi atas putusan majelis hakim yang kami anggap memenuhi rasa keadilan,” ujar perwakilan tim kuasa hukum dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Widyagama, Endah Sulistyani.
Diungkapkan tim kuasa hukum lain, Suriani, Febri juga mengaku sempat mendapatkan kekerasan saat proses penangkapan.

“Di persidangan klien kami (Febri, Red) sudah menyampaikan kepada majelis soal perlakuan kekerasan yang dialami saat penangkapan. Dan memang, klien kami tak tahu sabu yang disita sebagai barang bukti milik siapa?,” kata Suriani.
“Klien kami diminta temannya untuk menjemput seseorang. Kemudian orang yang dijemput sempat masuk mobil lalu lompat dari mobil saat beberapa meter jalan dan jalan mobil pelan. Kemudian kabur dan datang polisi menemukan sabu di jok mobil. Klien kami disuruh mengakui,” kata Suriani lagi.
Sementara perwakilan JPU, Prima Gunawan mengaku akan melakukan upaya kasasi.

Informasi yang dihimpun Sapos, Febri ditangkap anggota Satreskoba Polda Kaltim di depan sebuah hotel di Jalan Sentosa, Sungai Pinang, Jumat, 2 Juni 2017, pukul 18.15 Wita.

Sebelum kejadian, Febri yang baru beberapa bulan menikah dihubungi kenalannya berinisial UD melalui sambungan telepon selular (ponsel).
“Ketika itu suami saya bersiap mau buka puasa,” ujar istri Febri, yang enggan namanya dikorankan.

Sebenarnya Febri sudah dilarang keluar. Rupanya UD meminta tolong agar Febri menjemput temannya dan memberikan nomor telepon temannya yang mau dijemput.

Akhirnya Febri menghubungi telepon teman UD yang diketahui berinisial BR. Akhirnya BR meminta Febri menjemputnya di depan hotel. Begitu Febri datang mengendarai mobil pikap Daihatsu Grand Max, BR langsung masuk dan membawa bungkusan plastik yang diletakkannya di antara Febri.

“Namun sekitar 10 meter jalan dan mobil belum laju, orang yang dijemput itu (BR, Red) langsung melompat dari mobil. Tak lama datang polisi dan menggeledah mobil serta menemukan sabu,” beber Endah.

Akhirnya Febri diminta mengakui sabu itu miliknya. Febri juga sempat dibawa pulang ke rumahnya di Kelurahan Mugirejo, Kecamatan Sungai Pinang, untuk melakukan penggeledahan.
“Seisi rumah berhamburan. Semua barang diacak-acak waktu penggeledahan,” tutur istri Febri menambahkan.

Akhirnya Febri pun dibawa ke Mapolda Kaltim untuk menjalani pemeriksaan.
Saking senangnya mengetahui Febri bebas dari hukuman, istri dan kerabat Febri langsung berangkulan disertai isak tangis. Mereka bahagia karena Febri tak jadi dihukum.

Usai sidang dan proses administrasi rampung, tim kuasa hukumnya, yakni Endah, Nurjaninah, Supiatno dan Suriani langsung menjemput Febri dari Rumah Tahanan (Rutan) Klas IIA Sempaja. (rin/beb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.