Terkait Kasus Bupati Non Aktif Rita Widyasari, KPK Panggil Dokter Sonia

1 Komentar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Penyidik KPK menjadwalkan pemanggilan kepada dr. Sonia Grania Wibisono. Dokter cantik ini dipanggil sebagai saksi terkait dugaan pencucian uang yangh dilakukan Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) non aktif Rita Widyasari.

“Ya dibutuhkan pemeriksaan terhadap saksi dalam kasus dugaan TPPU (tindak pidana pencucian uang) yang dilakukan RIW (Rita Widyasari),” ucap Febri Diansyah saat dikonfirmasi di Jakarta, Selasa (23/01).

Pihak KPK, ingin mengkonfirmasi tentang pencucian uang yang dilakukan Rita. Diduga Rita melakukan perawatan kecantikan dirinya kepada dr. Sonia dengan uang ‘panas’ nya, sehingga KPK perlu mengkonfirmasinya.

“Penyidik perlu mengkonfirmasi penggunaan kekayaan RIW untuk sejumlah perawatan medis kecantikan,” jelasnya.

Namun, sampai saat ini dokter ini belum tampak hadir di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Selain memanggil Sonia, penyidik KPK juga memanggil General Manager Hotel Golden Season Samarinda yakni Hanni Kristianto dan Direktur Keuangan PT Sinar Kumala Naga yaitu Rifando. Mereka juga belum tampak hadir untuk memenuhi panggilan KPK.

Sebelumnya penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menetapkan Bupati Kutai Kartanegara periode 2010-2015 Rita Widiyasari dan Komisaris PT Media Bangun Bersama (MBB) Khairudin sebagai tersangka. Kali ini, keduanya ditetapkan tersangka terkait kasus dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU), setelah sebelumnya keduanya ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap dan gratifikasi.

Menurut Wakil Ketua KPK Laode M Syarief, mereka diduga bersama-sama telah menerima dana dari sejumlah pihak dalam bentuk fee proyek, fee perizinan dan fee pengadaan lelang APBD. Hal ini diterima Rita dan Khaerudin selama kurun waktu masa jabatan Rita sebagai bupati. Dari sejumlah penerimaan uang yang diterimanya, diduga Rita dan Khaerudin melakukan pencucian uang senilai Rp 436 miliar.

Syarief menambahkan, dari sejumlah uang yang diterimanya, Rita melakukan serangkaian tindakan pencucian uang seperti menempatkan, mentransfer, mengalihkan membelanjakan, membayarkan, menghibahkan, menitipkan, membawa ke luar negeri dan mengubah bentuk menukarkan dengan mata uang atau surat berharga atau perbuatan lain.

“Hasil tindak pidana korupsi dengan tujuan menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta kekayaan,” jelasnya.

Sebagai tindak lanjut terkait penetapan tersangka tersebut, penyidik kata Syarief, menyita sejumlah aset milik Rita berupa tiga unit mobil mewah, di antaranya Toyota Vellfire, Ford Everest, dan Land Cruiser. Selain itu, dua unit apartemen di Balikpapan, Kalimantan Timur, juga turut disita.

Lebih lanjut, penyidik juga menyita sejumlah dokumen catatan transaksi keuangan atas indikasi penerimaan gratifikasi serta dokumen perizinan lokasi perkebunan kelapa sawit dan proyek-proyek di Kabupaten Kukar.

Atas perbuatan yang dilakukannya, bupati cantik non aktif ini, bersama koleganya dijerat dengan Pasal 3 dan atau Pasal 4 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang TPPU juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 jo Pasal 65 ayat 1 KUHP. (Fajar/JPC)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...