Isi Pidato Pecah Belah Umat Islam, PAN Sarankan Kapolri Belajar dari Sejarah

Rabu, 31 Januari 2018 - 15:41 WIB

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Pidato kontroversial Kapolri Jendral Tito Karnavian di hadapan ratusan jamaah di salah satu acara terus menuai protes dan kecaman.

Pasalnya, dalam isi pidato Jenderal Polisi bintang empat ini sangat menggangu, dan bahkan menyinggung Ormas umat Islam lain, yang bukan anggota Nahdatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.

Dalam isi pidato itu, Tito Karnavian mengintruksikan seluruh anggotanya merangkul NU dan Muhammadiyah karena sudah berjasa dalam kemerdakaan Republik Indonesia, dan tidak usah dengan organisasi Islam lainnya.

Pernyataan ini langsung mendapat kritik tajam dari Anggota DPR RI, Daeng Muhammad. Menurut politisi PAN ini, Kapolri harus belajar dari sejarah, karena bukan hanya NU dan Muhammadiyah yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia.

“Kapolri harus belajar dari sejarah, bukan hanya dua Ormas itu, ada Ormas yang lain,” kata Daeng Muhammad kepada Fajar.co.id di Gedung DPR RI, Rabu (31/1).

Dikatakan Daeng Muhammad, Kapolri jangan memainkan politik belah bambu, karena terlihat sengaja memecah belah Ormas Islam. Anggota Komisi III DPR RI ini mengaku tidak setuju dengam pendapat Kapolri.

“Ini seperti politik belah bambu. Jangalah Ormas Islam dipecah-pecah oleh pola seperti ini, saya tidak setuju dengan pendapat Kapolri. Saya mengkritik pidato Kapolri di depan dua Ormas itu. Ada Al Irsyad, Persis, ada gerakan-gerakan Islam lain juga yang berperan dalam bagaimana memerdekakan Republik ini,” tegasnya.

Daeng Muhammad menyarankan agar Kapolri harus arif dan bijak dalam berpendapat di hadapan publik. “Pak Kapolri harus arif dalam berpendapat, berargumen apalagi di hadapan publik,” sarannya. (Aiy/Fajar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.