Pak Kapolri, Sarekat Islam dan Persis Lebih Duluan dari Muhammadiyah-NU

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Pidato Kapolri, Jenderal Tito Karnavian benar-benar membuat gaduh. Pasalnya, pidato Kapolri yang terkesan memecah belah Ormas umat Islam itu munai kritik dari berbagai pihak.

Ketua Komisi VIII DPR RI, Ali Taher mengatakan, semua warga negara mempunyai hak baik institusi maupun perorangan, selain ber-Nahdatul Ulama dan ber-Muhammadiyah. Dalam isi pidato, Tito Karnavian mengintruksikan anak buahnya untuk mendekati NU-Muhammadiyah, dan mengabaikan Ormas lainnya, karena karena diluar dua organisasi itu bukan pendiri negara, tapi mau merontokan negara.

“Sebagai warga negara mempunyai hak, baik institusi maupun perorangan. Disamping NU-Muhammadiyah itu kan ada Al Irsyad, Al Wasliyah, Mad Lau Anwar,Ppersis. Kalau urutannya itu kan Budi Utomo 1908, Sarekat Islam 1911, Muhammadiyah 1912, Said Na’um 1914, Al Irsyad 1918, Persis 1923, NU 1926, Al Walsiyah 1930,” kata Ali Taher kepada wartawan, Senin (31/1).

Menurut politisi PAN ini, selain Ormas NU dan Muhammadiya ada banyak Ormas Islam yang mempunyai peran besar dalam kemerdekaan Negar Kesatuan Republik Indonesia. “Ini kan komponen bangsa yang ada didalam sejarah kebangsaan kita. Apapun peran organisasi diluar NU dan Muhammadiyah itu punya sejarah juga terhadap perjuangan kemerdekaan,” ucapnya.

Ali Taher menyarankan, Kapolri harus melepaskan kacamata politik dan menggunakan kacaata sosial dalam menyampaikan masalah-masalah seperti ini. Tak hanya itu, Ali Taher juga menyaranlan agar Kapolri harus bijak dan memiliki dasar sejarah yang kuat sebelum menyampaikan sesuatu yang berpotensi memecah belah antar sesama umat Islam.

“Itu jangan sampai dilihat dari kacamata politis, tapi dari kacamata peran sosial kebangsaan kita. Seorang pemimpin itu harus adil, harus bijak, dan harus memiliki dasar yang kuat untuk menyatakan sesuatu. Jangan karena kepentingan politis sesaat kita mengabaikan peran-peran sosial lebih banyak karena kita berbicara bangsa.,” sarannya.

Meski begitu, politisi daerah pemilihan Banten III ini mengakui peran NU dan Muhammadiyah juga besar dalam sejarah bangsa ini.

“Saya kebetulan dosen, jadi saya memahami betul sejarah itu, maka jangan dipilah-pilah. Adapun peran lebih Muhammadiyah dan NU dalam konteks kesejarahaan karena kekuatannya besar, kekuatan kesejarahaan sumbangsih NU dan Muhammadiyah dalam sejarah perjuangan bangsa sangat besar itu tidak bisa dipungkiri. Tapi dengan mengabaikan yang lain itu juga tidak adil,” jelasnya.

Diketahui, dalam pidato Kapolri di salah satu acara, dirinya mengintruksikan kepada semua bawahannya, baik Kapolda hingga Kapolsek agar mendekati NU dan Muhammadiyah, dan abaikan Ormas Islam lainnya karena mereka bukan organisasi pendiri bangsa, melainkan merontokan bangsa. (Aiy/Fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...