Kesepakatan Tiga Kementerian di Raker Kemendag, Bulog Harus Beli Hasil Petani

Kamis, 1 Februari 2018 - 12:07 WIB

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Tiga Kementerian di Kabinet Kerja Joko Widodo dan Jusuf Kalla telah bersepakat untuk jadikan Bulog sebagai pembeli hasil pertanian petani Indonesia, baik jagung, bawang maupun beras.

Tiga pertanian itu, yakni Kementerian Pertanian, Kemnterian Perdagangan (Kemendag) dan Kementerian BUMN. Kesepakatan tiga Kementerian ini dilakukan di Rapat Kerja (Raker) Kemnterian Perdagangan di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Kamis (1/2) dengan tema “Akselerasi Perdagangan di Era Ekonomi Digital”.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyadari harga bawang, jagung dan beras saat ini jatuh. Untuk itu, tiga hasil pertanian ini harus diserap oleh Pemerintah lewat Bulog.

“Untuk sektor pertanian, saat ini harga bawang, jagung dan beras jatuh. Jadi tiga-tiganya harus diserap oleh Bulog dan itu adalah komitmen kita, mulai dari Februari sampai dengan Juni harus diseral oleh Bulog,” kata Amran Sulaiman kepada wartawan usai melakukan presentasi di Raker Kemendag.

Dikatakan Amran Sulaiman, hasil pertanian yang akan diserap oleh Bulog akan tetap berpatokan pada kualitas, baik yang kualitas rendah hingga kualitas primer akan dibeli oleh Bulog.

“Soal kualitas, ini sudah kita bahas semua di Raker, yang kadar airnya 30 itukan sudah di luar kualitas, harusnya kadar air 25 dan tetap dibeli. Kedua, di atas harga pokok penjualan (HPP) juga dibeli, selesaikan dan tidak boleh ada masalah,” ungkapnya.

Lanjut Menteri asal Sulawesi Selatan ini, hasil tani yang kualitasnya benar-benar di bawah tetap dibelih, namun dengan harga yang berbeda pula.

“Kalau di luar kualitas atau kadar airnya di bawah karena musim hujan, itu tetap dibeli dengan harga yang di luar kualitas pula,” jelasnya.

Kata Menteri Amran, kesepakatan tiga Kementerian jadikan Bulog sebagai pembeli hasil pertanian petani Indonesia, semata-mata untuk membanti petani tidak merugi sebagaimana permintaan Presiden Joko Widodo.

“Jadi ngga ada cela petani rugi, Presiden benar-banar melindungi petani, buktinya sekarang jagung kita sudah ekspor, kita tak impor lagi, dulu 3,6 juta ton kita impor, dan sekarang kita ekspor ke enam negara, termasuk negara tetangga. Kita sudah sepakat serap sebanyak-banyaknya dan harus ekspor. Disepekati harga Rp 15 ribu/kilo,” ucapnya. (Aiy/Fajar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.