Soal Artikel ‘Asap dan Cermin’ Jokowi, Begini Kata PDIP

Kamis, 1 Februari 2018 - 11:36 WIB
Indonesian President Joko Widodo (2nd L) and the general manager of China Railway Corp. Sheng Guangzu (C) stand next to a model of a train while attending a ground breaking ceremony for the Jakarta-Bandung fast-train railway line in Walini, West Java province, Indonesia January 21, 2016. REUTERS/Garry Lotulung - RTX23CFD

FAJAR.CO.ID, JAKARTA- Sebuah artikel dari media luar sedang ramai jadi buah bibir pengguna sosial media. Artikel yang ditulis oleh John McBeth di media Asia Times itu, membahas soal pencitraan Joko Widodo (Jokowi) selama ini.

Pada judulnya Ia menulis, “Asap dan cermin Widodo menyembunyikan kebenaran keras”

Pada isi artikel tersebut, John McBeth menulis bahwa, Jokowi telah menjadi master dalam permainan asap dan cermin. Kata John McBeth, dalam artian sebenarnya adalah, Jokowi telah meyakini masyarakat bahwa segala sesuatu telah dilakukannya, meskipun sebenarnya tidak dilakukan. Ia juga menyebut Jokowi memanfaatkan sejumlah media ternama di Indonesia.

Menanggai itu, politisi PDIP Hendrawan Supratikno mengatakan pencitraan dalam dunia politik sesekali perlu. Dengan citra yang bagus, reputasi seseorang akan bernilai.

“Orang masih bicara perlu tidaknya pencitraan. Pencitraan itu perlu, titik. Itu hukum pertama. Kalau citranya jelek, melamar saja ditolak calon mertua, pencitraan itu sangat penting,” jelas Hendrawan di Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (1/2) seperti dilansir Rmol (JawaposGrup).

Menurutnya, pencitraan tidak masalah asal diiringi dengan kerja nyata yang bagus dan program yang terukur. Beda halnya jika hanya bergaya manis di depan publik.

“Sekarang persoalannya adalah sumber citra yang baik, pencitraan itu darimana? Apakah dari kerja riil atau prestasi yang betul-betul terukur atau dari sekedar gaya-gaya pose, itu harus dibedakan. Saya ingin jadi anu pencitraan, supaya kalau ceramah honornya tinggi, wartawan juga gitu sehingga dijadikan direksi,” jelasnya.

Hendrawan tidak setuju dengan muatan yang ditulis dalam pemberitaan media asing itu. Menurutnya, tulisan tersebut untuk mencari rating semata.

“Kalau menurut kami, ini cari sensasi. Supaya apa, pelanggannya di pasar Indonesia meningkat. Pasar oposisi kan cukup besar di sini, kan gitu pakai hitung-hitungan dagang,” tegas anggota DPR tersebut. (rml/fajar)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *