FSGI Desak Penegak Hukum Usut Kematian Guru di Sampang

0 Komentar

FAJAR.CO.ID — Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mendesak penegak hukum mengusut tuntas kasus meninggalnya guru kesenian SMA NEGERI I Torjun-Sampang, Madura, Ahmad Budi Cahyono akibat penganiayaan yang dilakukan oleh salah satu anak didiknya.

Oleh FSGI, kasus ini sangat memprihatinkan, dan bukan yang pertama kali.

“Kejadian semacam ini bukan yang pertama terjadi. Tidak hanya dilakukan oleh siswanya tetapi juga dilakukan orang tua siswa, bahkan ada yang dilakukan oleh siswa dengan orang tuanya secara bersama-sama, seperti menimpa pak Dasrul, seorang guru di Sulawesi Selatan,” kata Sekjen FSGI, Heru Purnomo, kepada wartawan, Jumat (2/2/2018).

UUGD Nomor 14 Tahun 2005 pasal 39 ayat 1 disebutkan, “Pemerintah, Penerintah Daerah, masyarakat, organisasi profesi, dan/atau satuan pendidikan wajib memberikan perlindungan terhadap guru dalam pelaksanaan tugas”.

Menurut Heru, siapapun pihak yang terkait dalam UUGD No 14 Tahun 2005 tersebut hàrus memberikan perlindungan terhadap guru dalam pelaksanaan tugas.

“Karena guru korban dianiaya dalam pelaksanaan tugas ,maka FSGI meminta kepada apartur penegak hukum untuk melakukan pengusutan apa penyebab kematian guru tersebut. Jika karena pemukukan siswa sebagai penyebab kematian guru maka hukum harus di tegakkan,” ujar Heru.

Sedangkan siswa sebagai penganiaya wajib, kata Heru, diproses secara hukum sesuai UU No 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA).

Kejadian ini, menurut hemat Heru, sudah diluar batas kewajaran sehingga harus menjadi perhatian dan efek jera kepada para siswa yang berpotensi melakukan tindak kekerasan, baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah. Sedangkan bagi para pendidik harus selalu menyadari bahwa dalam melaksanakan tugas ada resiko seperti itu.

“Oleh karena itu FSGI mendorong pemerintah terutama dinas-dinas pendidikan di daerah untuk memberikan perlindungan kepada para guru dalam menjalankan profesinya, terutama di lingkungan sekolah,” ujar Heru.

FSGI juga mendesak, kedepannya, harus ada SOP baik guru maupun siswa, ketika menjadi korban kekerasan di lingkungan sekolah. Dengan begitu, pihak sekolah dan pemerintah daerah wajib memberika pertolongan pertama dan segera membawa korban ke rumah sakit sehingga dapat dideteksi segera dampaknya.

“Sehingga tidak terlambat mendapatkan bantuan dan tindakan medis sebagaimana mestinya,” demikian Heru. (fajar/rmol)

 

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...