Cekcok Bupati-Wabup Tolitoli Berlanjut, Kasihan Masyarakatnya

Senin, 5 Februari 2018 - 06:03 WIB
Bupati Tolitoli, Mohammad Saleh Bantilan (kanan) dan wakilnya, Abdul Rahman H. Buding. (Foto: Jpg)

Perselisihan bupati Tolitoli dengan wakilnya belum sepenuhnya padam, meski sudah didamaikan sejumlah pihak.

========================
MUCHSIN SIRADJUDIN, Tolitoli
FOLLY AKBAR, Jakarta
========================

PEMICU awalnya diduga adalah bupati menolak mengganti kepala dinas transmigrasi yang diusulkan wakil bupati.

Bupati Tolitoli, Mohammad Saleh Bantilan, tak pernah merasa ada masalah dengan sang wakil, Abdul Rahman H.
Buding.

Karena itu, sampai sekarang dia juga tak paham apa yang melatarbelakangi insiden pada Rabu lalu (31/1/2018).

”Waktu dia datang, saya sampai ucapkan selamat datang. Tapi, tiba-tiba tendang meja dan sebagainya,” ujar
Saleh ketika ditemui Jawa Pos di kantor Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Jumat malam (2/2/2018).

Pertengkaran yang nyaris berakhir adu jotos antardua pemimpin tertinggi di kabupaten yang terletak di Sulawesi
Tengah tersebut terjadi di Gedung Wanita, Tolitoli.

Saat itu tengah dilaksanakan pelantikan pejabat eselon II serta ratusan kepala sekolah dasar.

Seperti ditulis Radar Sulteng (Jawa Pos Group), ketika itu, pada awalnya seluruh proses berjalan lancar.

Namun, di pengujung acara, Abdul Rahman yang baru datang dari Palu, Sulawesi Tengah, langsung menuju
podium tempat bupati dan Sekkab Mukaddis Syamsuddin duduk.

Wabup lantas menanyakan sesuatu kepada Mukaddis yang kemudian memanggil Gusti Saudah selaku kepala seksi
kepegawaian.

Tujuannya, Gusti diminta menjelaskan sesuatu yang tertera dalam beberapa lembar kertas yang dipegang Wabup.
Tak lama kemudian, kertas yang dipegang tersebut disobek Wabup.

Wabup kemudian berdiri dan langsung menendang salah satu sisi meja sambil berteriak.

Itu terjadi saat Saleh Bantilan akan mulai membacakan sambutan. Atas tindakannya itu, Saleh pun melaporkan
sang wakil ke polisi.

Lalu, setelah tiga hari berlalu, bagaimana hubungan kedua pemimpin tertinggi di Pemkab Tolitoli itu?

Tampaknya, bara belum sepenuhnya padam. Saleh, misalnya, bahkan mengaku terus terang tidak betah lagi
berpasangan dengan Abdul Rahman. Sebab, dia merasa sudah tidak cocok.

Kalaupun pemerintah pusat menginginkan keduanya rujuk, pria kelahiran 5 Juli 1958 itu siap-siap saja. Hanya,
proses hukum harus tetap berjalan.

Menurut dia, apa yang sudah dilakukan wakilnya itu sudah masuk kategori arogan dan mengacaukan.

”Kalau rujuk, ya sudah masing-masing saja. Saya kerja sendiri, dia kerja sendiri,” kata Saleh yang belum berniat
mencabut laporan ke polisi.

Abdul Rahman pun merasa lebih tahu tentang Tolitoli ketimbang sang bupati. Sebab, Saleh disebutnya terlalu
sering meninggalkan wilayah yang dipimpin.

”Saya lebih tahu bagaimana pegawai yang ada di Kabupaten Tolitoli. Dia mana tahu, dua hari di Tolitoli, satu
minggu tinggalkan lagi,” katanya.

Karena itu, kalau Kemendagri memanggilnya untuk memberikan keterangan, dia siap. ”Saya akan menyampaikan
apa yang sebenarnya terjadi,” katanya.

Dalam insiden Rabu pekan lalu itu, Abdul Rahman juga sempat melontarkan langsung kecaman atas seringnya
Saleh absen.

”Saya tidak pernah mengeluh meski Bapak tinggalkan. Saya jalankan pemerintahan. Saya begitu menghargai
Bapak selama dua tahun,” kata Wabup dengan nada tinggi kepada Saleh.

Di antara keduanya saat itu, ada belasan aparatur sipil negara (ASN), satpol PP, dan personel kepolisian yang
berusaha melerai.

”Bapak juga harus tahu, Tolitoli harus kita bangun pakai uang,” balas bupati, kemudian langsung disambut Wabup
dengan jawaban, ”Iya betul, tapi jangan tinggalkan daerah ini terus-menerus.”

Sumber Radar Sulteng menyebutkan, pemicu insiden tersebut sebenarnya kekecewaan Wabup. Sebab,
permintaannya untuk mengganti salah seorang pejabat eselon II tidak dipenuhi oleh bupati.

Menurut sumber tersebut, sudah lama Abdul Rahman meminta Kadis Transmigrasi Jumadil Sikoti digeser.
Penggantinya bisa siapa saja, terserah bupati.

”Tapi, hari ini tidak ikut dilantik. Ini yang menyebabkan beliau marah,” ungkap sumber yang juga orang dekat
Wabup yang minta namanya tidak disebutkan di media.

Saleh juga menduga demikian. Namun, Saleh tidak bisa menjelaskan alasan apa yang digunakan sang wakil untuk
ngotot mengganti pejabat tersebut. ”Mungkin dia ada pesanan atau apa,” tuturnya, menuding.

Saleh mengakui, pada pertengahan 2016 keluarganya sempat punya masalah dengan keluarga sang wakil.

Salah seorang anaknya, Putri Indira Tien Paradiba, melaporkan istri wakil bupati, Diah Rahma Tanti, ke Polresta
Kota Palu.

Dia menceritakan, pelaporan itu bermula saat anaknya diperlakukan berbeda dengan tidak diberi minum oleh
petugas. Setelah diusut, itu merupakan perintah istri wakil bupati.

”Kata petugasnya, dia diperintah ibu itu (istri bupati, Red),” tuturnya.

Tapi, di luar persoalan tersebut, Saleh merasa bahwa hubungannya dengan Rahman baik-baik saja. Tapi, sekarang,
sejak pertengkaran Rabu lalu itu, Saleh dan Abdul Rahman yang memenangi pilkada 2015 tak pernah bertemu
lagi. Bisa dipastikan pula keduanya tak berkomunikasi.

Bahkan, Saleh menuding wakilnya itu sekarang ingin menggulingkan dirinya. Padahal, dulu, klaim dia, Rahman
sampai memohon agar dirinya memilihnya sebagai wakil.

Berbagai pihak sebenarnya sudah berusaha mendamaikan keduanya. Namun, Saleh tidak berada di tempat sejak
insiden pekan lalu. Meskipun Saleh telah menyatakan kesiapannya untuk melakukan pertemuan.

Pertemuan itu sedianya difasilitasi anggota Forkopimda Tolitoli, antara lain Kapolres Tolitoli, AKBP Moh. Iqbal
Alqudusy, Kajari, ketua pengadilan negeri, dan Ketua DPRD, Andi Ahmad Syarief.

Kepala Bagian (Kabag) Humas dan Protokol Sekretariat Daerah Pemkab Tolitoli, Arham Yaqub, juga menyebut
masalah yang terjadi antara bupati dan wabup hanyalah miskomunikasi belaka.

”Karena keinginan wakil bupati untuk menempatkan seorang pejabat di salah satu OPD (organisasi perangkat
daerah, Red). Sementara ini belum bisa dilakukan,” kata Arham.

Arham juga membantah bahwa bupati tidak mengundang wabup. Hanya, saat itu wabup sedang berada di Kota
Palu untuk urusan dinas. (cr4/mch/JPG)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.