Fredrich Yunadi Optimis Gugatan Praperadilannya Tidak Gugur

Senin, 5 Februari 2018 - 14:37 WIB
Mantan pengacara Setya Novanto, Fredrich Yunadi. (Foto: JPG)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Kuasa Hukum Fredrich Yunadi, Sapriyanto Refa, optimis jika gugatan praperadilan yang diajukan kliennya tidak gugur meski Fredrich akan menjalani sidang pokok perkara pada 8 Februari mendatang, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta.

“Dalam praperadilan ini hakim maksimal harus memutus perkara dalam waktu 7 hari, kalau hakim bisa tiga hari kenapa tidak?” ungkap Sapriyanto Refa di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada Senin, (5/2).

Sapriyanto Refa menambahkan, pihaknya mendaftarkan praperadilan kliennya di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis, (18/1). Gugatan itu dimaksudkan untuk mematahkan penetapan status tersangka yang dilakukan pihak termohon KPK kepada pihak pemohon Fredrich Yunadi.

“Praperadilan ini kami ajukan berdasarkan permintaan Pak Fredrich atas beberapa hal, yakni penetapan tersangka, penyitaan, dan penahanan yang tidak sah,” jelas Sapriyanto.

Terpisah, terkait adanya hal tersebut, juru bicara KPK Febri Diansyah tak khawatir atas praperadilan yang diajukan Fredrich Yunadi.

“Silakan saja. Praperadilan itu kan hak tersangka. Jadi, tidak ada kekhawatiran dari kami,” kata Febri Kamis (18/1) lalu.

Seperti diketahui, sebelumnya penyidik KPK menangkap advokat Fredrich Yunadi, Jumat (12/1) malam. Berdasarkan informasi yang dihimpun, Fredrich diamankan di Rumah Sakit Medistra, Jakarta Selatan. U‎paya hukum itu dilakukan demi kepentingan penyidikan.

Penangkapan itu dilakukan lantaran Fredrich mangkir dalam pemeriksaan yang dilayangkan penyidik KPK. ‎Seharusnya, mantan‎ pengacara Setya Novanto itu menjalani pemeriksaan tersangka atas kasus merintangi penyidikan e-KTP. Namun, dia tidak hadir dengan dalih tengah proses etik di Dewan Kehormatan Peradi. ‎

KPK sebelumnya telah menetapkan Fredrich dan seorang dokter Rumah Sakit Medika Permata Hijau (RSMPH), Bimanesh Sutardjo sebagai tersangka kasus dugaan merintangi penyidikan perkara korupsi proyek pengadaan e-KTP yang menjerat Setya Novanto.

Keduanya diduga memanipulasi data medis agar Setya Novanto lolos dari pemeriksaan KPK. Fredrich bahkan disebut memesan satu lantai kamar VIP di RS Medika Permata Hijau sebelum Setya Novanto kecelakaan.

Atas perbuatannya, Fredrich dan Bimanesh disangkakan melanggar Pasal 21 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. (Fajar/JPC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.