Sewa Polisi Gadungan untuk Ditangkap, Modus Suami Peras Istri

Senin, 5 Februari 2018 - 17:40 WIB

FAJAR.CO.ID, SURABAYA – Memiliki istri yang dianggap pelit, membuat hidup Anang Arisyafii,30, berubah pelik. Jatah uang bulananan dari istrinya dirasa masih kurang. Karena tak tahan, pria yang tinggal di Jalan Bronggalawan Sawah 5A nomor 18, Surabaya ini nekat memeras istrinya. Modusnya pria yang akrab dipanggil gendut tersebut membuat skenario dengan mengaku jika ia ditangkap polisi karena kasus kepemilikan narkoba.

Kerena ia mengaku menjadi korban, maka untuk menjalankan sekenarionya ia membutuhkan satu orang lagi yang berpura-pura menjadi polisi.  Ia lantas melibatkan temannya, Imam Wahyudi alias Heru, 40, warga Jalan Kapas Madya 4A nomor 27, Surabaya. Anang memilih Heru lantaran istri tersangka, yakni Kurnia tak mengenal Heru. Namun yang paling penting, Heru memiliki prejengan seperti polisi, mulai dari tubuhnya yang tegap dan potongan agak sedikit cepak.

Sekenario Anang dijalankan pada Selasa (23/1). Pertama-tama, dia menghubungi istrinya Kurnia melalui handphone (HP), ia  mengatakan kepada Kurnia jika ia ditangkap polisi. Alasanya, dia difitnah memiliki narkoba. Awalnya Kurnia tak percaya, sebab banyak modus yang sama di telepon. Namun Anang mencoba untuk menyakinkan korban jika yang ditangkap itu benar-benar dirinya.

Namun Kurnia masih enggan menanggapi. Kemudian, tersangka mengajak korban bertemu di salah satu minimarket di kawasan Kapas Krampung. Korban akhirnya mendatangi minimarker tersebut, dan di sana ia sudah mendapati suaminya dalam keadaan terborgol bersama seorang lelaki yang tak lain adalah Imam.

Kemudian Anang menjelaskan kepada korban jika Imam  adalah seorang polisi yang menangkapnya. Padahal Imam hanya berpura-pura menjadi polisi. Kemudian Imam mencoba menyakinkan jika Anang memiliki narkoba. Namun ia bisa bebas, jika korban menebusnya dengan uang Rp 10 juta.

Dengan muka memelas, Anang terus merajuk istrinya untuk menebusnya agar ia bisa bebas. Kemudian korban sepakat dan mentransferkan uang tersebut ke rekening Imam. Ia mentransfernya lewat mesin ATM yang ada di minimarket tersebut.

Setelah uang ditransfer,  Anang lantas meminta kunci kontak kendaraan korban. Dengan alasan, ia akan mengantarkan Imam ke kantornya. Namun nyatanya ia tak kembali. Uang Rp 10 juta dan motor korban dibawa kabur oleh suami dan temannya.

Korban awalnya tak curiga, ia pun kembali ke rumah. Namun Anang tak kunjung pulang, nomor HP-nya juga tak bisa dihubungi. Kemudian ia sadar jika ia sudah menjadi korban penipuan dan pemerasan. Setelah itu, ia melaporkan kasus tersebut ke Polrestabes Surabaya.

Setelah mendapatkan laporan tersebut, tim anti bandit Satreskrim Polrestabes Surabaya melakukan penyelidikan. Lokasi pertama yang dituju adalah rekaman CCTV yang ada dinimarket, dimana korban diperas. Setelah mengetahui rekaman CCTV tersebut, polisi lantas melakukan pengejaran.”Kami sudah menangkap kedua tersangka,” ungkap salah satu sumber Polrestabes.

Keduanya pun berhasil ditangkap di lokasi yang berbeda. Setelah keduanya ditangkap, Anang mengatakan jika uang hasil pemerasaan istrinya dibagi dengan Imam. Hanya saja Imam mendapat bagian yang lebih sedikit yakni Rp 1 juta. Sedangkan sisanya dinikmati Anang. Uang tersebut ia gunakan untuk bersenang-senang.

“Tersangka mengaku nekat melakukan aksinya lantaran ingin bersenang-senang, namun semua uangnya di pegang semua oleh korban yang juga istri tersangka,” ungkap sumber tersebut.

Meski demikian, penyataan resmi terkait statemen tersebut belum terlontar dari Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Sudamiran. Sebab saat dikonfirmasi, lewat telepon tak ada jawaban. Pesan whatsapp yang dikirimkan juga tak direspons.(Fajar/JPC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *