Atasi Kerugian Petani, Mentan Bentuk Tim Khusus Serap Gabah dari 7 Provinsi

Rabu, 7 Februari 2018 - 21:10 WIB

FAJAR.CO.ID, SEMARANG– Menteri Pertanian (mentan), Andi Amran Sulaiman terus melakukan upaya percepatan dalam membantu petani menghadapi panen raya dengan membentuk tim khusus siap serap gabah (sergab) yang terdiri dari 7 provinsi lumbung pangan.

Persiapan itu dengan melibatkan Kementerian BUMN, Kementrian Desa, BRI, Bulog, TNI, Petugas Penyuluh Lapangan (PPL), Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), dari tujuh provinsi daerah yang merupakan lumbung pangan, serta beberapa Kabupaten yang harganya diprediksi akan jatuh dibawah harga pokok penjualan (HPP).

“Kita sudah siapkan model pembelian, skemanya di luar kualitas, kita bisa beli, HPP kita bisa beli, fleksibilitas di atas 10 persen kita beli, komersil dibeli. Kita sudah tanda tangan bersama, insya allah
kita sudah mulai bergerak besok.” Kata Amran Sulaiman usai Rapat Koordinasi Siaga Serab Gabah 2018 di Ball Room Crown Hotel, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (6/1) malam.

Target yang disepakati dalam rapat koordinasi terbatas, kata Mentan, sebanyak 2,2 juta ton beras yang nantinya akan diserap bulog dari gabah 4,4 juta ton di masa panen raya hingga Juni 2018 nanti. “Tahun lalu sampai Juni hanya sejuta lebih, kita tingkatkan dua kali lipat,” kata Mentan.

Menanggapi beberapa wilayah dengan harga gabah yang tidak sesuai dengan harga pasar, mentan mengatakan, pihaknya telah berdiskusi dengan Satgas Pangan guna mengantisipasi harga gabah yang tidak seimbang tersebut.

Seperti di Kabupaten Sukabumi, misalnya, Rp 3800 turun 33 persen. Tapi lingkup beras turun hanya 3-4 persen. Kata Mentan, harusnya turun 30 persen dan minimal 20 persen turun di harga beras.

“Tapi turunnya hanya 3-4 persen, Rp 625/Kg, kami terima laporan. Ini harus kita lihat bersama, karena ini untuk kepentingan orang banyak, kepentingan konsumen, kepentingan petani harus kita jaga,” kata pria kelahiran Bone Sulawesi Selatan ini.

Beberapa wilayan yang dinilai berpotensi turun harga di kalangan petani sendiri adalah Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Lampung, Sumatera Selatan.

Mentan menjelaskan, Daerah-daerah tersebut merupakan lumbung pangan dengan hasil produksi yang lebih besar sehingga wajar terjadi gejolak harga. Selain itu telah masuk panen raya dan juga musim hujan.

“Faktor-faktor ini yang membuat biasanya harga jatuh di bawah harga pokok penjualan. Tapi, pemerintah tidak tinggal diam, langsung bekerja sebelum terjadi.
Sekarang ini sudah terjadi tapi belum seluruhnya,” jelasnya.

Petani juga dimanjakan dengan asuransi apabila terjadi kerugian akibat bencana banjir. Asuransi petani termasuk pertama dalam sejarah yang hanya terdapat di pemerintahan Jokowi-JK. Selain itu bantuan berupa infrastruktur, saluran irigasi kepada petani juga disalurkan.

“Kalau tidak salah mungkin tujuh ratusan ribu hektar (tercover asuransi-red), dari target 1
juta. Tahun ini 1 juta juga. Kita teruskan, bahkan berkembang untuk sapi. Sapi sudah ada yang terima asuransi tadi, ada ketabrak, sapinya ketabrak mobil, ada juga kekeringan diganti.” Jelas Mentan.

Ikut dalam Rapat Koordinasi Siaga Serab Gabah 2018 itu, antara lain Aster Kasad, Mayjend. Supartodi,  Dirjen TP Kementan, Gatot Irianto, Dirjen KP Kemendes dan Ketua KTNA, Winarno Tohir, Kasdam, Dandim, Kadistan, Kadivre Bulog dan Direksi BRI dari 9 Provinsi. (dal/fajar).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *