Hutan Kota Dibabat, Warga Takut Kena Imbasnya

Rabu, 7 Februari 2018 - 08:52 WIB

FAJAR.CO.ID, POLEWALI — Maraknya pembabatan hutan kota di kawasan gunung Perumtel Kelurahan Mandatte Kabupaten Polewali Mandar (Polman) membuat warga sekitar resah. Pasalnya warga setempat takut akan dampak yang ditimbulkan dari pembabatan hutan tersebut, seperti bencana alam.

Salah satu warga Kelurahan Madatte, Muhammad, mengatakan pengerukan hutan kota di kawasan gunung perumtel luasnya sudah mencapai 20 kali 30 meter persegi karena kayu dan pohon disana sudah dua kali ditebang, sehingga dirinya khawatir dampak bencana alam yang mengintai pemukiman warga seperti erosi dan tanah longsor.

“Hutan kota yang tadinya hijau sekarang sudah gersang, ini akibat gunung perumtel yang dikeruk batunya diambil, mungkin dijadikan batu gajah untuk material bangunan,” kata Muhammad, Senin 5 Februari.

Ia menambahkan hutan kota yang gersang keindahannya praktis akan berkurang, sehingga obsesi Pemkab Polman meraih piala Adipura secara otomatis akan terhambat, menurutnya hutan kota gunung perumtel sudah lama dikenal sebagai paru-parunya Kelurahan Madatte.

“Sinar matahari sudah tambah panas karena tak ada lagi pohon yang melindungi. Kami berharap pihak terkait mencegah hal ini jangan sampai meluas,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) Mapilli Nenny Tandi Rapak menyampaikan penanganan dan pelestarian hutan kota bukan gaweannya, karena pihaknya hanya mengurusi hutan lindung serta hutan produksi, kata dia, hutan kota dibentuk berdasarkan surat keputusan (SK) Bupati kemudian penunjukannya melalui RT atau RW Polman namun apabila terjadi hal-hal diluar dari fungsi hutan kota tersebut maka menjadi tanggungan instansi terkait penerima SK.

“Saya tidak tahu siapa yang diberi tugas mengurus hutan kota. Apalagi persoalan ini cukup penting karena fungsi hutan kota yaitu melindungi dan edukasi,” ungkap Nenny.

Terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Polman Edy Wibowo menuturkan belum bisa mengambil tindakan sebelum melihat SK lokasi gunung perumtel yang menetapkan lokasi tersebut masuk dalam kawasan hutan kota, tetapi jika terbukti maka pihaknya akan memberi sanksi sesuai aturan yang ada.

“Tidak bisa satu SKPD saja yang menangani harus bersatu semua, kalau pengerukan bisa ditegur karena harus ada izinnya di pertambangan, kami hanya mengurusi dampak lingkungan serta pencemarannya saja,” tandasnya. (ali/sulbarexpress/fajar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.