Cari-cari Kyai, Pria Misterius Ditangkap di Bogor

0 Komentar

FAJAR.CO.ID — Warga sempat geger pada tingkah lelaki tak dikenal yang mencari kyai pesantren di Ciawi,
Kabupaten Bogor, Jumat (9/2/2018).

Kepolisian Sektor (Polsek) Ciawi pun turun tangan. Polisi mengamankan pria yang diduga mengalami gangguan disabilitas itu.

Bersama sejumlah kader pekerja sosial masyarakat, polisi menyerahkan pria tersebut ke Dinas Sosial Kabupaten Bogor.

Langkah tersebut buru-buru diambil petugas untuk menghindari hal-hal yang tidak diingkan. Pasalnya, pria
berperawakan kurus dan seperti orang linglung itu sempat mondar-mandir tak jelas di Desa Teluk Pinang, Ciawi,
dan menanyakan kyai pesantren.

“Dia menghampiri seorang warga dan menanyakan dimana kyai pesantren. Karena dianggap mencurigakan, akhirnya pria tersebut diinterogasi warga,” ujar Ketua Ecovillage Desa Banjarwangi, Yayat Nurhayati, seperti dilansir Radar Bogor, Sabtu (10/2/2018).

Yayat mengatakan, warga khawatir karena viralnya kasus orang gila yang menimbulkan korban belakangan ini. Sehingga pria tak beralas kaki itu akhirnya diserahkan ke Polsek Ciawi.

“Setelah diinterogasi lebih lebih dalam, pria tersebut memang tidak gila, tapi gangguan disabilitas. Demi alasan keamanan, kami serahkan ke Dinas Sosial,” jelasnya.

 

*MUI Minta Ulama Tidak Terprovokasi

Rentetan kasus penganiayaan oleh orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Jawa Barat rupanya membuat sebagian masyarakat paranoid.

Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia, KH Cholil Nafis meminta para ulama untuk tidak terprovokasi dan tetap teguh mengikuti proses hukum pada kasus penganiayaan dua tokoh agama di Jawa Barat.

“Kita berharap kepada ulama, kita tidak lepas dari tahun politik, jangan mudah terprovokasi,” kata Cholil kepada pewarta.

Ia pun meminta para ulama bisa menjaga diri agar tetap teguh menjadi penguat di masyarakat. Ulama
merupakan salah satu pondasi penting untuk membangun solidaritas juga silaturahim umat. Tidak lupa juga agar
ulama lebih waspada dan hati-hati dalam menjaga keamanan dan keselamatan.

“Tidak membuat pernyataan yang membuat tambah keruh atau salah paham sehingga memicu keributan,” kata Cholil.

Ulama diminta untuk tidak takut dan memastikan diri bukan bagian dari sumber masalah.

Cholil mengingatkan agar barisan ulama harus tetap jadi penengah yang membawa perdamaian.

“Katakan benar adalah benar dan salah tetap salah, tentu dengan koridor ahlakul karimah,” kata dia.

*Perlu Pendampingan

Sementara itu, Ketua pekerja sosial masyarakat (PSM) Kabupaten Bogor Dian Firmansyah menilai perlu adanya penguatan pendampingan pada orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).

Itu untuk menghindari kasus-kasus kekerasan yang dilakukan oleh ODGJ. Terlebih keberadaan PSM di setiap wilayah sudah diatur di dalam Permensos Nomor 01 Tahun 2012.

“Seharusnya pemerintah desa maupun kecamatan bisa koordinatif dengan kami untuk membuat kepengurusan relawan PSM di daerah masing-masing. Beberapa kecamatan sudah ada. Cuma saat ini masih ada delapan kecamatan yang belum memiliki Pengurus PSM,” kata Dian.

Meski begitu, masyarakat juga diminta tetap waspada dan bersikap kritis. Pengamat politik Universitas Pendidikan (UPI) Karim Suryani menduga ada aktor intelektual di balik teror orang gangguan jiwa yang terjadi belakangan ini di Jawa Barat.

“Saya yakin ini bukan situasi alamiah, tapi ada operasi senyap di balik itu. Bisa jadi pula ini sebagai alasan membenarkan mengangkat Pj gubernur dari polisi,” kata Karim, Jumat (9/2).

Ia mengatakan teror yang terjadi terhadap tokoh agama dan pesantren menunjukkan adanya upaya mengusik simbol-simbol Islam. Hal itu tentunya menimbulkan reaksi masyarakat Jabar yang dikenal religius dan mayoritas muslim.

“Meskipun mayotitas Sunda, tapi lebih mayoritas lagi mencintai Islam. Ini menjadi isu sensitif ketika simbol Islam diusik. Yang mengusik ini bisa memunculkan sentimen keislaman, atau memunculkan anti Islam atau memecah belah,” tutur dia.

Ia meminta aparat kepolisian segera mengusut tuntas teror orang gangguan jiwa ini. Sebab, sambung dia, dikhawatirkan persoalan ini terus berkembang.

“Masyarakat juga harus berperan dalam situasi ini, polisi tidak bisa bergerak sendirian,” ucap dia.

Kendati berpotensi terjadi konflik, kata dia, ia memprediksi tidak akan mengganggu pelaksanaan Pilkada serentak 2018. Sebab, sambung dia, masyarakat Jabar sudah semakin dewasa dalam berdemokrasi. (cr3/net/radarbogor)

 

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment