Pemuka Agama Dianiaya, Bamsoet Minta Ini ke BIN dan TNI

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Ketua DPR Bambang Soesatyo meminta Badan Intelijen Negara (BIN) dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) ikut mengantisipasi meningkatnya potensi gangguan keamanan imbas kekerasan terhadap sejumlah pemuka agama akhir-akhir ini. Menurutnya, antisipasi itu diperlukan agar persoalannya tidak meluas dan masyarakat tetap tenang.

“Komisi I DPR perlu mendorong TNI dan BIN untuk mengantisipasi situasi keamanan, ketertiban, dan kenyamanan dalam kehidupan masyarakat,” kata Bambang melalui pesan singkat, Senin (12/2).

Legislator yang akrab disapa dengan panggilan Bamsoet itu menambahkan, insiden penyerangan terhadap pemuka agama tentu mengundang keprihatinan. Politikus Partai Golkar itu pun mengharapkan insiden serupa tidak terjadi lagi.

Bamsoet juga meminta Komisi III DPR yang menjadi mitra Polri agar mendorong institusi pimpinan Jenderal Tito Karnavian itu egera mengusut tuntas berbagai kasus penyerangan terhadap pemuka agama.  “Agar sekaligus membongkar motif dan latar belakang penyerangan terhadap para pemuka agama, mengingat kejadian tersebut sangat meresahkan masyarakat dan berpotensi untuk memicu perpecahan antarumat beragama,” tegasnya.

Selain itu, Bamsoet juga mengimbau kepada seluruh lapisan masyarakat untuk tetap tenang dan menahan diri. Menurut dia, aksi ini hanya dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

“Saya minta masyarakat tidak mudah terpancing dan tidak menjadikan insiden ini sebagai provokasi SARA,” pintanya.

Sebagai Informasi, dalam dua pekan terakhir setidaknya ada empat kali penyerangan terhadap tokoh agama. Pertama, penganiayaan terhadap pimpinan Pondok Pesantren Al Hidayah Cicalengka, Kabupaten Bandung, KH Umar Basri (Mama Santiong) yang diserang usai salat subuh pada 27 Januari 2018 lalu.

Selang beberapa hari kemudian, Komando Brigade PP Persis Ustaz Prawoto juga dianiaya pada 1 Februari lalu di Bandung. Nahas, Ustaz Prawoto akhirnya meninggal dunia.

Sementara Biksu Mulyanto Nurhalim asal Desa Babat, Tangerang, Banten menghadapi persekusi warga pada Sabtu (10/2) lalu. Nurhalim dipaksa menandatangani surat perjanjian supaya tak menggelar kegiatan peribadatan di desanya sendiri.

Terakhir, penyerangan di Gereja St Lidwina, Gamping, Sleman, Yogyakarta. Pelaku bernama Suliyono asal Banyuwangi, menyerang para jemaah dan pastor gereja dengan pedang. (Fajar/JPC)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment