Serangan Terhadap Sejumlah Tokoh Agama, Fadli Zon: Ini Tamparan Bagi Pemerintah

Selasa, 13 Februari 2018 - 11:40 WIB

FAJAR.CO.ID, JAKARTA-  Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon mengaku terusik dengan rentetan kejadian penyerangan terhadap sejumlah tokoh-tokoh agama belakangan ini.

Jika sebelumnyam, teror itu dialami oleh sejumlah tokoh Islam, ulama dan Ustaz, pada Minggu (11/2) kemarin serangan kembali menimpah tokoh kristen saat memimpin misa di Gereja Santa Lidwina, Sleman, Yogyakarta.

Fadli Zon mengecam sejumlah aksi itu, dan mendesak pihak Polri mengusut tuntas para pelakunya.

“Aksi penyerangan terhadap jamaah dan pimpinan Misa di Gereja Lidwina Sleman, Yogyakarta, jelas melukai kita. Saya mengecam tindakan tak beradab tersebut. Tindakan itu sama sekali tak mencerminkan ajaran agama manapun.” Tulis Fadli Zon melalui akun twitternya (13/2).

Fadli Zon mengatakan, kejadian tersebut bukan kali pertama terjadi, Ia berharap jangan sampai mudah menuduh kelompok-kelompok tertentu. Namun begitu, Politikus Gerindra ini menduga ada motif adudomba antar kelompok.

“Baik antar kelompok yang berbeda agama, maupun antar kelompok dalam satu agama. Kalau kita tarik lagi ke belakang, sebelum peristiwa kekerasan di Gereja Lidwina, kita mencatat setidaknya ada empat serangan serupa yang kebetulan menimpa pemuka kalangan Islam dari ormas yang berbeda-beda.” Jelasnya.

Kejadian Pertama, Kata Fadli Zon, Kekerasan terhadap K.H. Emron Umar Basyri, pengasuh Pondok Pesantren Al-Hidayah Cicalengka, seorang tokoh NU. Kedua, serangan terhadap Ustad Prawoto, salah satu tokoh Persis (Persatuan Islam), yang akhirnya meninggal dunia.

Ketiga, masih kata Fadli, serangan terhadap seorang santri dari Pesantren Al-Futuhat Garut, oleh enam orang tak dikenal. Dan keempat, serangan tehadap Ustad Abdul Basit, yang dikeroyok sejumlah orang di Jalan Syahdan, Palmerah, Jakarta Barat.

“Serangan-serangan tersabut terlihat memiliki pola target yang sama. Sasarannya adalah tokoh atau kelompok keagamaan. Menariknya, sejumlah penyerang yang berhasil diidentifikasi juga memiliki identitas tunggal, yaitu diduga sabagai orang gila.” Beber Fadli.

Fadli melanjutkan, Isu agama adalah isu sensitif. Sehingga ia mendesak aparat kepolisian untuk bekerja secara cetap dan transparan, agar tidak muncul spekulasi dan prasangka yang bisa memicu konflik di tengah masyarakat.

“Terlebih di tahun-tahun politik seperti sekarang. Upaya-upaya yang mengarah kepada adu domba, membentur-benturkan masyarakat, semakin banyak. Itu sebabnya pemerintah, dalam hal ini aparat keamanan, harus bisa mengantisipasi agar peristiwa serupa tak terulang lagi.” Harapnya.

Ia menilai, rentetan kejadian ini merupakan tamparan keras bagi pemerintah. Sebab pemerintah dinilai belum bisa memberikan jaminan rasa aman.

“Padahal, ulama, santri, pendeta, dan jemaat gereja adalah warga negara yang berhak dapat jaminan keamanan dari pemerintah. Apalagi, pemerintah juga baru menyelenggarakan Musyawarah Besar Pemuka Agama dana Kerukukan Bangsa pekan lalu.” Tukasnya.

“Kenapa tiba-tiba bisa muncul kejadian seperti ini? Ini menjadi teguran bagi kedisiplinan pemerintah, khususnya aparat keamanan,” imbuh Fadli Zon.

Aksi ini juga dilihat dari sisi Ekonomi, Fadli Zon mengatakan, pemerintah seharusnya rubah haluan pembangunan dari semula berorientasi proyek dan mendatangkan investasi secara jor-joran, menjadi lebih berorientasi pemerataan.

Kata dia, Masyarakat yang selama ini dikesankan aman, tentrem, tiba-tiba bisa berubah beringas, “Benarkah ada masalah dengan toleransi, ataukah ada masalah lain yang bersifat struktural?,” katanya.

Fadli Zon mengklaim. dari data yang diperolehnya, tingkat kepentingan ekonomi di Yogyakarta saat ini mencapai 0.44 atau jauh diatas ketimpangan ekonomi nasional yang berada di atas 0,39.

“Biaya hidup di Yogya dari tahun ke tahun terus naik, jauh di atas rata-rata kota besar yang ada di sekitarnya, seperti Solo dan Semarang. Lonjakan harga tanah di Yogya termasuk yang tertinggi secara nasional, membuat banyak orang yang tinggal di Yogya kesulitan memiliki rumah.” Ungkap Fadli Zon.

“Ini adalah problem struktural dan ketimpangan, seperti pengalaman historis kita, adalah jerami kering yang mudah sekali terbakar.” Imbuhnya.

Di akhir kata Fadli Zon mengajak para pemuka agama untuk menjaga toleransi dan menenangkan masyarakat sekitar.

“Jangan mudah terpancing atau terjebak pada politik adu domba. Kekayaan kita yang paling berharga adalah bisa bersatu dalam kemajemukan. Kita harus menjaganya.” Tutupnya.

(Dal/fajar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.