Kisah Muhammad Ali, Pengajar di Mejelis Taklim Kalangan Waria

0 Komentar

Bagi Muhammad Ali, pendakwah harusnya memboyong pesan damai. Bukan menghakimi, apalagi ujug-ujug memersekusi orang-orang yang tak sejalan dengan pemahamannya.

DONNY MUSLIM, Banjarmasin

Muhammad Ali, lahir di Banjarmasin 46 tahun silam. Ayah dan ibunya berasal dari Pulau Jawa. Namun, dirinya memilih tetap tinggal di Kalimantan Selatan. Lulus dari jenjang pendidikan S1 di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Nasional Banjarmasin, Ali bekerja sebagai akuntan untuk perusahaan kontraktor.

Ayah dari dua orang anak ini punya sisi lain. Ia merupakan pengampu Pengajian Al Idrus. Majelis taklim para waria yang bermarkas di Jalan Sungai Lulut, Kompleks Yunisa II. Berjarak 10 kilometer dari pusat Kota Banjarmasin.

Tak memiliki latar belakang pendidikan pondok pesantren, menurutnya bukan harga mati untuk menjadi seorang rohaniawan. “Kalau tak ada yang mau menjadi guru keagamaan bagi waria, kepada siapa lagi mereka berharap?” ujar Guru Ali, panggilan khas para jemaah waria Pengajian Al Idrus ketika memulai pembicaraan.

Kemarin (13/2) siang saya menemuinya di Salon Dimas. Tak perlu khawatir, Ali lelaki tulen. Ia memang sering bolak-balik salon tersebut lantaran istrinya pernah menjadi murid tata rias Bunda Dimas, sang pemilik salon.

Tak menampilkan diri seperti seorang penceramah atau ustaz, Ali yang punya gaya rambut sibak tengah hanya mengenakan kemeja biru kotak-kotak berlengan pendek serta celana hitam panjang berbahan kain. “Saya sudah biasa dengan gaya berpakaian kayak begini,” tuturnya.

Dorongannya memberikan motivasi keagamaan bermula sejak tahun 2013. Saat itu, dirinya sering mengantar istrinya kursus tata rias. Menghindar diri untuk tak bertemu kalangan waria baginya tak mungkin.

“Awal-awalnya saya merasa aneh juga dengan mereka ini, akan tetapi, lambat laun saya sudah terbiasa dan diminta untuk mengisi pengajian,” ujarnya.

Pengajian Al Idrus digelar sepekan satu kali tiap malam Jum’at. Dihadiri rata-rata 20 sampai 25 waria, pengajian diadakan dengan format yasinan lalu diakhiri dengan ceramah agama. Dengan durasi satu hingga dua jam.

Kajian keagamaan tak mengusung tema sukar dicerna kalangan awam seperti tasawuf serta fikih. Ali memilih bahasan ringan. Tema tausyiah mengenai membangun akhlak seorang Muslim jadi favorit jemaah.

“Bahasannya tak jauh-jauh dari sikap seperti mengimbau mereka agar jangan bermalas-malasan, menghilangkan penyakit hati, serta tema sedekah,” ceritanya.

Uniknya, jika lazimnya pengajian berlangsung satu arah, Ali membukanya secara dua arah. Para jemaah waria pasti ramai bertanya. Diceritakannya, sesi tanya jawab menjadi momen-momen paling berkesan ketika memberikan asupan rohani.

“Mereka itu sering menceritakan masalah pribadinya. Misal saja, peristiwa penolakan di lingkungan keluarga. Saya jawab tunjukan dengan akhlak yang baik sebagai seorang Muslim,” ujarnya.

Apa yang menjadi prinsipnya dalam menyampaikan dakwah? Diungkapkannya, ia memegang teguh konsep Habluminallah dan Habluminannas. Baginya, hubungan dengan Tuhan dan manusia harus seimbang. “Terlepas latar belakang orangnya. Sebagai pendakwah jangan sampai menghakimi, apalagi memersekusinya dengan ancaman-ancaman tak pantas,” tegasnya.

Bagi Ali, hidayah dari Tuhan bakal datang dengan sendirinya. Beriringan dengan perubahan akhlak dari seseorang. Dalam pandangannya, ia hanya berbagi kepada sesama manusia yang diciptakan Tuhan. Yang membedakan hanyalah pola pikir serta orientasi seksualnya.

Ditanya ambisi membimbing kebutuhan rohani para waria, Ali berkeinginan mendirikan pondok pesantren. Dengan materi keagamaan yang beragam. “Namun, sambil jalan saja dulu. Kita lihat perkembangannya ke depan. Selama ini, masyarakat Banjarmasin cenderung toleran,” tandas Dimas.

Bagaimana dengan komentar para jemaah melihat kiprah Muhammad Ali? Bunda Dimas, perwakilan jemaah menceritakan Guru Ali tak pernah menyentil orientasi seksual serta identitas gender yang mereka sandang.

Dituturkannya, sikap Ali yang cenderung berhati-hati memberikan tausyiah disukai para jemaah. Kalau nekat menyinggung, jemaah dijamin bakal kabur.

“Dulu pernah ada penceramah lainnya datang. Langsung menghakimi kami sama dengan kaum Nabi Luth. Otomatis, jemaah ketakutan. Sebagai waria, kami hanya minta bimbingan untuk lebih baik. Bukan malah divonis,” pungkasnya. (dom)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment