Bunuh Orangutan karena Sengketa Lahan, Satu Bocah Ikut Terjerat

0 Komentar

FAJAR.CO.ID — Pembunuh orangutan dengan ratusan peluru bersarang di badan akhirnya terungkap, menyeret lima tersangka.

Jajaran Polres Kutim menangkap kelima tersangka, juga menyita empat pucuk senapan angin yang digunakan membunuh satwa yang dilindungi itu.

Penangkapan lima orang terkait dengan kasus pembunuhan orangutan, dibeberkan Kapolres Kutim dalam jumpa pers yang digelar di Polres Kutim, kemarin, Sabtu (17/2/2018).

Kapolres Kutim AKBP Tedi Ristiawan menjelaskan, penangkapan terhadap para pelaku berhasil dilakukan setelah dilakukan pemeriksaan terhadap beberapa saksi. Kelima pelaku tersebut adalah Mu bin Ce (36), An bin Ha (37), Na bin Sa (54), Na (37), dan seorang anak-anak berinisial Dio. Dio saat ini tidak ikut ditahan karena masih dibawah umur.

“Dari keterangan saksi, kami menyipulkan jika kelima orang ini adalah pelaku pembunuhan orangutan itu. Apalagi, dari mereka berhasil disita empat pucuk senapan angin, yang mereka akui digunakan untuk membunuh orangutan. Meskipun lima tersangka, tapi karena salah seorang di antaranya masih di bawah umur, makanya tidak ikut ditahan, tapi proses hukum tetap jalan,” katanya.

Diakui Kapolres, kelima pelaku diamankan sejak Kamis (15/2/2018) lalu di Desa Teluk Pandan, oleh tim penyidik Polres Kutim. Dari keterangan para tersangka diperoleh, jika motif penganiayaan orangutan, dengan cara menembak menggunakan senapan angin itu, karena orangutan telah merusak kebun warga Teluk Pandan ini. Padahal lokasi perkebunan itu sendiri masih masuk dalam areal Taman Nasional Kutai (TNK) yang menjadi habitat orangutan.

Dalam jumpa pers yang berlangsung sekitar pukul 9.00 Wita, empat pucuk senapan angin, termasuk foto-foto proyektil yang diangkat dari tubuh orangutan, juga diperlihatkan polisi. Di mana proyektil peluru diangkat dari tubuh orang utan yang ditemukan Minggu (4/2/2018) lalu dalam kedaan luka, yang kemudian tewas karena ditembus sekitar 130 peluru.

Akibat perbuatannya, para tersangka dikenakan pasal 21 ayat 2 huruf a jo pasal 40 ayat 2 UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang KSDAE Jo Pasal 55 KUHP yang bunyinya, setiap orang dilarang menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup. “Ancaman hukuman dari perbuatan tersangka adalah hukuman penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp100 juta,” jelasnya .(jn/beb)

 

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...