Inilah Para Pelaku Pembantaian Orang Utan Secara Sadis

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, SANGATTA – Pelaku penembakan orangutan di Taman Nasional Kutai (TNK), Desa Teluk Pandan, Kecamatan Teluk Pandan, Kutim, Sabtu (3/2), diperkirakan tak hanya lima orang. Polres Kutim masih menelusuri adanya pelaku lain yang ikut menembak. Penyidik memiliki lima amunisi untuk mencari jejak pelaku lain.

Dimulai dari kembali melakukan pemeriksaan saksi-saksi, melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) yang ketiga kalinya, menggelar rekonstruksi, menyediakan berkas perkara dan menyerahkannya ke JPU atau tahap I, serta menyerahkan tersangka dan barang bukti atau tahap II.

Selain memburu pelaku lain, penyidik mengumpulkan informasi apakah para tersangka adalah pelaku yang sama terhadap pembunuhan orangutan pada 16 Mei 2016. Mengingat, lokasi kejadian juga sama dan berdekatan, yakni di TNK.

“Kami masih lakukan pemeriksaan pada tahap awal. Belum diketahui, apakah mereka merupakan pelaku yang sama dalam kejadian yang sebelumnya. Nanti ketika memang mengarah ke sana, kami pasti akan ungkapkan,” kata Kapolres Kutim AKBP Teddy Ristiawan, kemarin.

Dia melanjutkan, salah satu fokus penyelidikan adalah terkait luka bacokan orangutan. Teddy membenarkan, itu didapat dari seorang tersangka. Tapi sebelumnya para tersangka tak mau mengaku. “Yang jelas, mereka melakukan puluhan tembakan. Makanya, orangutan itu sampai sekarat terluka dan sempat bermalam di tepi danau dalam keadaan sekarat karena tembakan itu. Mereka akan dihukum setimpal,” ujarnya.

Mantan kapolres Penajam Paser Utara itu melanjutkan, dari keterangan para tersangka, orangutan telah merusak sebagian tanaman. Semua tersangka sama-sama mengaku telah menembakkan peluru senapan angin dalam jumlah banyak.

Terutama tersangka Muis (36). “Dari rumah tersangka Ms (Muis) telah membawa dua kotak peluru senapan angin. Tiap-tiap kotak berisi 60 peluru. Itu masuk akal dengan hasil autopsi yang telah menunjukkan bahwa terdapat 130 peluru senapan angin di sekujur tubuh orangutan itu,” ungkapnya saat diwawancarai awak media di lobi utama Mapolres Kutim, Kompleks Bukit Pelangi, Sangatta Utara.

Dari pemeriksaan terhadap 19 saksi dan penyelidikan di lapangan, penyidik menetapkan tersangka penembakan kepada Muis (36), Nasir (55), Andi ( 37), Rustam (37), dan seorang bocah 13 tahun berinisial He.

Antara satu pelaku dengan pelaku lain memiliki hubungan keluarga. Nasir merupakan kakek dari He. Sementara itu, Andi adalah menantu Nasir. Rustam merupakan anak kandung Nasir. Mereka ditangkap pada Kamis (15/2) sekitar pukul 15.00 Wita. Kejadian bermula sejak 3 Februari saat Muis menemukan banyak tanaman nanas di kebunnya rusak. Setelah itu, Muis kembali ke pondoknya. Sejurus itu, dia mengaku mendengar suara orangutan dari luar pondok, lantas kemudian mencarinya dengan membawa bekal senapan angin.

Tak jauh dari kebunnya, dia menemukan seekor orangutan di samping danau. Dia pun membalas perbuatan satwa tersebut dengan tembakan senapan angin. Namun, hewan itu mengamuk, lalu memberi perlawanan.

Merasa kurang kuat, Muis meminta bantuan Nasir dan He, dengan senapan angin di tangan masing-masing, lalu memulai aksi penembakan. Orangutan itu pun lari ke tengah danau, sekitar pukul 09.00 Wita. Mereka mengejar sampai ke tepi danau. Mereka kembali menembaki orangutan berusia kurang lebih 6 tahun tersebut.

Senapan angin He pun sempat rusak. Bocah SMP tersebut kembali ke pondoknya untuk mengganti senapan angin. Rustam yang kebetulan datang dari arah pondok langsung tertarik untuk ikut menembaki orangutan, kemudian mengajak Andi. Mereka berlima secara bergantian melesatkan peluru-pelurunya ke tubuh orangutan tersebut.

Dalam keadaan masih hidup, orangutan ditinggalkan di tepi danau oleh lima tersangka. Esoknya, Nasir melaporkan ke petugas TNK bahwa ada seekor orangutan di danau tersebut, yang kemudian dievakuasi.

Akhirnya, satwa itu dinyatakan tewas pada 6 Februari dalam keadaan luka bacok di siku kanan, punggung, tangan kiri, jempol kiri, dan lengan kiri. Juga, buta pada mata kanan, gigi taring bawah patah, dan luka tembak sebanyak 130 peluru senapan angin di sekujur tubuh.

Khusus tersangka He, ucap Teddy, akan tetap diproses hukum. Namun, dengan penanganan berbeda karena masih di bawah umur. “Tetap akan diproses anak itu. Mungkin sanksinya akan lebih ringan. Nanti bergantung bagaimana hasil sidang, yang jelas lebih ringan,” imbuhnya kepada Kaltim Post.

STRES LIHAT ORANGUTAN

Pelaku penembakan orangutan di kawasan TNK telah ditetapkan tersangka sejak Jumat (16/2). Kelima pelaku memiliki peran masing-masing. Tersangka Muis bin Cebun adalah yang pertama mengetahui adanya orangutan di kebun nanasnya. Dia sosok sentral dalam kasus ini (lihat grafis).

Ditemui kemarin, Muis menjelaskan alasannya menembak orangutan. Dia beralasan sedang stres. Pasalnya, ibunya akan pulang. Dia mengaku kebingungan. Sehingga melampiaskan perasaannya dengan menembak orangutan tersebut. “Saya stres sekali. Kebetulan saya dengar suara orangutan sangat berisik. Bergegas saya mendatangi kebun dengan membawa senapan angin. Lalu saya tembak,” katanya.

Saat melakukan penembakan, dia melihat orangutan tersebut teriak-teriak. Sehingga memanggil beberapa temannya untuk membantu melenyapkan satwa yang dilindungi itu. Dia mengaku tak mengetahui binatang tersebut dilindungi. “Awalnya saya sendirian. Melihat hewan itu ngamuk, saya panggil H Nasir. Lalu kami kejar terus ketika orangutannya lari,” ungkapnya yang mengenakan baju tahanan Polres Kutim.

Menurut dia, kejadian tersebut baru pertama kali dilakukan. Perihal temuan sayatan senjata tajam di tubuh orangutan, dia tidak mengetahuinya. Dia mengaku hanya menggunakan senapan angin. Senapan tersebut kerap digunakan untuk menembak biawak. “Ini pertama kalinya saya melihat orangutan. Baru sekali ini pula kami menembaknya,” ungkap dia.

Muis menuturkan, sangat menyesali dengan yang telah dilakukan. Jika saja mengetahui orangutan dilindungi, dia tidak akan menembak. “Semoga hal ini menjadi yang terakhir dan tidak terulang kembali,” akunya. (prokal)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

0 Komentar