Diisukan Jual Hanura ke Oso, Ini Kata Wiranto

Kamis, 22 Februari 2018 - 17:22 WIB
Ketum Hanura Oesman Sapta Odang saat memerkan SK kepengurusan baru Hanura di kediamannya. (Foto: JawaPos.com)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Ketua Dewan Pembina Partai Hari Nurani Rakyat (Hanura) Wiranto menepis isu miring soal jual beli jabatan ketua umum. Isu yang beredar, Wiranto menjual jabatan tersebut ke Oesman Sapta Odang (Oso) dengan harga ratusan milyar rupiah.

Berbicara dalam acara syukuran Hanura lolos sebagai peserta Pemilu 2019 dan mendapat nomor urut 13, Kamis (22/2), Wiranto merefleksi kembali Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) 2016.

“Supaya semua paham bahwa pergantian pimpinan adalah sesuatu yang biasa. Pergantian pimpinan di Partai Hanura adalah hal biasa. Tapi, ada prosesi tanggung jawab kepada negara yang luar biasa,” ungkap menteri koordinator politik, hukum dan keamanan (menkopolhukkam) itu.

Wiranto mengatakan, memang banyak pertanyaan bahwa kenapa dia tidak merangkap jabatan ketum dan menkopolhukkam saja kala itu. Pertanyaan yang ada itu sekalian memberikan contoh pemimpin yang rangkap jabatan.

Namun, Wiranto menegaskan bersama Oso dan Presiden Joko Widodo sudah punya komitmen.

“Saya, Pak Oso, Pak Jokowi, punya komitmen. Saat saya terpanggil dalam tugas kenegaraan, lebih konkret lagi sebagai menteri pembantu presiden, maka ada tugas yang sangat strategis, berat dan menentukan nasib negara harus saya laksanakan,” paparnya.

Wiranto berjanji akan komitmen pada proses, tugas dan tanggung jawab sebagai menkopolhukkam tersebut. Karena itu, kata Wiranto, digelarlah Munaslub Partai Hanura 2016.

“Ini untuk adanya suatu estafet kepemimpinan, di mana ada panggilan tugas negara. Proses Munaslub itu sudah dilalui dengan baik, manis terhormat,” ungkap Wiranto.

Namun, kata Wiranto, ada saja isu miring terkait Munaslub yang akhirnya memilih Oso secara aklamasi sebagai ketum Hanura. “Biarlah isu memang isu, tidak bisa dicegah. Ada isu Wiranto jualan ke Oso, ada yang bilang Rp 200 miliar,” kata Wiranto.

Mantan Panglima TNI itu menegaskan isu miring itu sama sekali tidak benar. “Saya dengan Pak Oso tidak pernah jual beli,” tegas Wiranto.

Dia menegaskan sejak sama-sama di organisasi dulu, tidak pernah bicara soal uang dengan Oso. Dia menegaskan tidak sepeser pun minta uang ke Oso. “Tapi, dibayar dengan komitmen dan pakta integritas,” tegasnya.

Komitmen dan pakta integritas itu adalah bahwa Oso sebagai pengganti Wiranto harus jaga soliditas, merawat partai dengan baik, menambah perolehan suara legislatif pusat dan daerah.

“Itu bayaran komitmen, bukan dengan uang. Tapi niat cukup kuat untuk lanjutkan perjuangan Hanura yang belum selesai,” ungkap Wiranto.

Oso pun demikian. Dia menegaskan benar yang dikatakan Wiranto bahwa tidak ada transaksi uang di balik suksesi kepemimpinannya di Hanura.

“Sehingga saya jujur saja, benar apa yang Pak Wiranto bilang, tidak ada itu saya membayar Pak Wiranto Rp 200 miliar, apalagi mengambil uang Rp 200 miliar,” kata Oso saat memberi sambutan di acara yang sama.

Yang ada, Oso menegaskan, pihaknya menangkap pencuri yang menggerogoti partai ini. “Semuanya bisa kami buktikan,” kata Oso.

Namun, Oso mengatakan, tentu ini bukan jalan keluar untuk menyelesaikan persoalan partainya. Oso menegaskan di mana pun organisasi yang digelutinya, dia selalu membereskan masalah keuangan. Termasuk Partai Hanura.

“Saya tidak pernah lapor Pak Wiranto, saya tertibkan semua. Setelah terjadi baru saya jelaskan ke Pak Wiranto dan dewan penasihat. Setelah beliau mendengar beliau setuju dengan tindakan yang saya ambil,” katanya.

Dia menegaskan inilah cikal bakal penertiban. Memang, ujar Oso, penertiban tidak populer. Kebiasaan buruk diperbaiki itu memang tidak populer.

“Tapi, itu risiko tugas saya dipercayakan Pak Wiranto untuk melaksanakan dengan sebaiknya,” katanya seraya menambahkan berlian yang jatuh dalam lumpur tetap berlian. “Jangan ada dusta di antara kita,” timpalnya. (Fajar/jpnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *