Tersangka Pembantai Orang Utan Bisa Bertambah

Jumat, 23 Februari 2018 - 05:57 WIB

FAJAR.CO.ID, SANGATTA – Hari ini, Polres Kutim menggelar rekonstruksi ulang penembakan orangutan di tempat kejadian perkara (TKP), di Taman Nasional Kutai (TNK), Kutim. Hal ini untuk menggambarkan kejadian secara nyata.

Kapolres Kutim AKBP Teddy Ristiawan mengatakan, berbeda bila dilakukan di Mapolres Kutim, tentu akan lebih tampak nyata bila reka ulang dilaksanakan di TKP. Di mana saat itu ada adegan kejar-kejaran terhadap orangutan, hingga berpindah tempat sampai tiga kali.

Teddy mengaku, ingin bekerja cepat menyelesaikan kasus yang menjadi sorotan publik nasional bahkan dunia tersebut. Dalam reka ulang, akan mengungkap bagaimana kejadian secara detail, sehingga kasus itu bisa berlanjut ke tahap berikutnya. Yakni pemberkasan tahap I, tahap II, hingga dilimpahkan ke kejaksaan.

Mantan kapolres Penajam Paser Utara (PPU) tersebut menuturkan, tidak menutup kemungkinan ada tersangka lainnya yang bakal masuk daftar buruan kepolisian. Namun, hal itu belum dapat dipastikan.

Mengenai adanya kasus pembunuhan orangutan sebelumnya yang juga terjadi tak jauh dari TKP di TNK pada Mei 2016, Teddy mengatakan, tidak menutup kemungkinan keduanya berkaitan. Hal itu merupakan kemungkinan yang belum ditemukan petunjuknya, namun akan tetap diupayakan.

“Untuk saat ini, kami masih fokus menangani kasus pembunuhan orangutan yang satu ini dulu. Nanti, bila ditemukan ada kaitannya dengan kasus sebelumnya, akan kami kembangkan penyelidikannya,” urai lelaki yang baru menjabat di Kutim sekira dua bulan tersebut.

Diketahui, lima tersangka yang ditangkap Polres Kutim merupakan sekumpulan keluarga dan tetangga. Antara lain, Muis (36) yang merupakan penembak awal karena ingin melindungi kebunnya dari orangutan, Nasir (55) yang membantu penembakan bersama cucunya He (13), kemudian dibantu oleh anaknya dan menantunya, yakni Andi (37) dan Rustam (37).

Kejadian pada 5 Februari itu membuat satwa yang dilindungi tersebut tewas pada 6 Februari, dengan ditemukan 130 peluru senapan angin bersarang pada sekujur tubuhnya. Kasus ini sontak bikin heboh. Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Kutim Irawansyah menyatakan, perkebunan warga di TNK merupakan ilegal. Itu berpotensi menambah nilai hukuman terhadap warga. Namun, kewenangan lebih banyak ada di pemerintah pusat yang membawahi langsung pengawasan TNK.

Sebelumnya, juga ditemukan seekor bayi orangutan usia 3 bulan, yang dinamai Moa, di Kecamatan Kaliorang, Kutim, Minggu (18/2). Satwa itu kemudian diserahkan oleh Saka Wana Bhakti Kutim kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim, dan dirawat di BOSF Samboja Kukar. (mon/rsh/k15)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.