IDAI Nyatakan Susu Kental Manis Tak Layak bagi Balita

Sabtu, 24 Februari 2018 - 06:03 WIB

FAJAR.CO.ID — Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyatakan susu kental manis tidak layak dikonsumsi oleh anak di bawah lima tahun.

Dalam konsultasi di situs resmi IDAI, Dr Damayanti Syarif mengatakan, pemberian susu pada anak usia di atas satu tahun, baik ASI maupun susu lainnya pada si kecil tidak utama. Sebab, hanya boleh diberikan maksimal 30 persen dari total kebutuhan kalori. Sebanyak 70 persen sisanya seharusnya berupa makanan padat.

Pemberian susu di dalam konteks makanan anak usia batita dan balita adalah sebagai sumber kalsium dan sumber protein dengan asam amino esensial yang lengkap.

Berbagai pertanyaan yang sering diajukan orang tua kepada dokter anak adalah penggunaan susu kental manis pada si kecil.

Pertimbangan orang tua memilih susu kental manis adalah harga yang relatif lebih murah. Selain itu, susu kental manis juga mudah disimpan dan tidak cepat basi dibandingkan dengan susu pertumbuhan anak.

Damayanti menjelaskan, susu kental manis adalah susu yang dibuat melalui proses evaporasi atau penguapan.

Susu itu umumnya memiliki kandungan protein yang rendah. Selain diuapkan, susu kental manis juga diberik gula tambahan.

Hal ini menyebabkan susu kental manis memiliki kadar protein rendah dan kadar gula yang tinggi.

Kadar gula tambahan pada makanan untuk anak yang direkomendasikan oleh WHO pada 2015 adalah kurang dari sepuluh persen total kebutuhan kalori.

“Susu kental manis sebaiknya tidak dikonsumsi oleh balita. Ayah dan bunda harus pintar memilah dan harus terlebih dahulu melihat kandungan nutrisi setiap porsinya,” ujar Damyanti dikutip dari situs resmi IDAI di Jakarta, Jumat (23/2/2018).

Dia mencontohkan salah satu jenis susu kental manis yang dijual secara komersial menuliskan dalam satu takar porsi (empat sendok makan) memasok 130 kkal dengan komposisi gula tambahan 19 gram dan protein satu gram.

Jika dikonversikan dalam kalori, 19 gram gula sama dengan 76 kkal. Kandungan gula dalam satu porsi susu kental manis tersebut lebih dari 50 persen total kalorinya.

Angka itu jauh melebihi nilai rekomendasi gula tambahan yang dikeluarkan oleh WHO.

Susu kental manis tidak boleh diberikan pada bayi dan anak karena memiliki kadar gula yang tinggi dan kadar protein yang rendah.

Pemberian susu yang direkomendasikan untuk bayi adalah ASI atau ASI donor yang telah terbukti aman atau susu formula bayi.

Sedangkan jika berusia di atas satu tahun, selain ASI, bayi dapat mengonsumsi susu sapi yang sudah dipasteurisasi atau UHT atau susu formula pertumbuhan.

“Untuk pemberian susu selain ASI sendiri sebaiknya berkonsultasi kepada dokter spesialis anak,” ujar Damyanti.

Ketua Komisi IX DPR RI, Dede Yusuf, pada dalam sebuah kesempatan juga menekankan misinformasi tentang produk makanan dan minuman oleh masyarakat turut berpengaruh pada asupan gizi anak.

Seperti susu kental manis yang diberikan sebagai minuman untuk anak yang akhirnya menyebabkan tiga balita di Kendari dan satu di Batam dirawat di RS dengan diagnosis gizi buruk.

“Masyarakat tidak paham mana yang boleh diberikan untuk anak dan mana yang tidak boleh. Gizi buruk dan stunting menjadi persoalan serius di Indonesia,” ujar Dede.

Menurut Dede, sosialisasi ini tidak hanya dibebankan kepada pemerintah, tapik juga menjadi tanggung jawab produsen, terutama makanan dan minuman kemasan yang banyak dikonsumsi anak.

Edukasi ini tidak hanya dilakukan oleh pemerintah, tapi juga seharusya produsen ikut berperan mengedukasi pembeli.

“Semestinya, produsen diberikan amanat oleh pemerintah untuk mencantumkan informasi produk dengan sangat detail pada label, mulai digunakan untuk apa, batas usia penggunaan. Bahkan, kalau perlu akibat-akibat yang ditimbulkan bila tidak digunakan sebagaimana mestinya. Artinya, pembeli pun mengerti bahwa produk tersebut tidak boleh untuk anak,” jelas Dede. (jos/jpnn/fajar)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *