Tunjukkan Tren Positif, Ekspor Kepiting Bakau Capai 6,2 M

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Lalulintas kepiting bakau dalam kurun waktu 3 tahun sejak 2015 sampai 2017 menunjukkan tren yang cukup positif. Hal tersebut mengalami peningkatan yang cukup signifikan dengan rata-rata sebesar 20,4 persen atau mencapai 6,2 milyar pertahun.

Volume lalulintas ini didominasi oleh pasar domestik sebesar 65,2% dengan tujuan utama adalah Jakarta dan Denpasar. Presentase pasar ekspor sebesar 31,3% dengan tujuan utama adalah China, Singapura dan Malaysia.

Sedangkan kontribusi domestik masuk tidak signifikan dengan presentase hanya sebesar 3,5% yang berasal dari Kendari, Ambon, Balikpapan, Jayapura, Sorong dan Mimika.

Menurut Kepala BKIPM Makassar, Sitti Chadidjah, fluktuasi volume lalulintas sangat dipengaruhi oleh permintaan pasar. Untuk saat ini permintaan terbesar justru berasal dari pasar domestik.

“Hal ini disebabkan karena permintaan pasar ekspor yang sangat tinggi, khususnya ke Fuzhou dan Guangzhou, China, tidak didukung dengan tersedianya koneksi penerbangan langsung, sehingga kepiting bakau harus dilalulintaskan ke Jakarta terlebih dahulu,” ujar Sitti di kantor BKIPM Makassar, Selasa (27/2/18).

Selain itu, permintaan pasar ekspor kepiting bakau juga meningkat jelang perayaan Imlek, “Adapun tren peningkatan volume lalulintas yang sangat signifikan pada bulan Januari setiap tahunnya, disebabkan adanya  perayaan Imlek di area tujuan pengiriman,” tambahnya.

Mengacu pada kebijakan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 56 Tahun 2016 tentang Larangan Penangkapan Dan Atau Pengeluaran Lobster, Kepiting dan Rajungan Dari Wilayah Negara Republik Indonesia. Ini merupakan kebijakan untuk mendukung upaya strategis pemerintah dalam mengelola sumber daya kelautan dan perikanan secara lestari dan berkelanjutan.

“Hal ini sebagai bentuk keseriusan kementerian Kelautan dan Perikanan dalam mewujudkan komitmennya untuk memberlakukan tata kelola perikanan berkelanjutan. Praktek perikanan berkelanjutan dibutuhkan untuk meminimalisir penangkapan ikan yang tidak bertanggungjawab,” jelas Sitti. (sul/fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

0 Komentar