Tiba di KPK, Rombongan OTT ADP-Asrun Lanjut Diperiksa

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Wali Kota Kendari, Adriatma Dwi Putra (ADP) dan sang ayah Asrun yang juga merupakan calon gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) tiba di Kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kamis (1/3) sekira pukul 00.08 WIB.

ADP dan Asrun tidak berdua, mereka digiring bersama Hasmun Hamzah (Pengusaha Jotun/PT. Indo Jaya/Direktur PT. Sarana Bangun Nusantara), Fatmawati Faqih (Mantan Kepala BPKAD Kota Kendari) serta Hamka yang merupakan staf dari ADP. Tak ada keterangan dari kelimanya saat tiba di kantor komisi anti rasuah itu.

Dari perjalanan dari Bandara Soekarno Hatta, mereka berlima dikawal dengan menggunakan tiga unit mobil KPK yang sudah menunggu di Bandara. Asrun, ADP dan Hamka berada dalam satu mobil dan tiba lebih dulu di kantor KPK. Sedangkan Hasmun Hamzah dan Fatmawati Fiqih tiba terakhir dengan menggunakan satu mobil lainnya.

Saat tiba di KPK, ADP tampak terus menunduk dan mengikuti belakang sang ayah. Sementara Asrun tampak tegar berjalan memasuki lobi kantor KPK. Berbeda dengan Fatmawati Fiqih yang sempat menebar senyuman dan melambaikan tangan kepada awak media, padahal ia tambak membawa dua tas. Sementara Hasmun Hamzah yang membawa satu tas yang diduga berisi uang hasil suap hanya menunduk seperti halnya ADP.

Berdasarkan pemeriksaan awal, KPK menelusuri adanya kaitan perusahaan swasta yang menggarap proyek di Dinas Pekerjaan Umum Kota Kendari tahun anggaran 2018. Diduga proyek tersebut terkait dengan pembangunan jalan Bungkutoko dengan anggaran berkisar Rp. 60 miliar lebih yang berasal dari APBD Kota Kendari secara bertahap dari 2018 sampai 2020 yang dimenangkan oleh PT Sarana Bangunan Nusantara.

“Sampai ketika ada transaksi keuangan dengan perusahaan swasta, tim KPK bergerak untuk mengamankan sejumlah pihak dan meminta klarifikasi lebih lanjut,” kata juru bicara KPK, Febri Diansyah, Rabu (28/2) malam.

Febri mengakui dalam OTT tersebut KPK juga mengamankan uang berjumlah miliaran rupiah dalam pecahan rupiah. Uang tersebut diduga pemberian dari pengusaha swasta dalam rangka memenangkan proyek tersebut. Uang tersebut diberikan pada Selasa (27/2). “Nilai transaksinya miliaran rupiah yang diserahkan pada Selasa (27/2) dengan pecahan rupiah,” tukasnya. (Fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...