Tak Diloloskan Bawaslu, PKPI Teruskan Perjuangan ke PTUN

0 Komentar

FAJAR.CO.ID — Sidang ajudikasi Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) secara resmi menyatakan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) tidak memenuhi syarat sebagai peserta pemilu 2019 mendatang.

Alasannya, partai besutan tokoh intelejen nasional, AM Hendropriyono itu dinilai tidak memenuhi syarat keanggotan di empat provinsi dan 73 kabupaten/kota.

Melihat partainya gagal lolos sebagai peserta pemilu, Sekretaris Jenderal PKPI, Imam Anshori Saleh mengatakan, pihaknya mengaku prihatin dengan keputusan yang telah diketuk oleh Bawaslu.

Pasalnya, kata Imam, kepengurusan di partainya meyakini bahwa ada beberapa hal mengenai gugatannya yang belum diperiksa secara teliti oleh Bawaslu. Sehingga, katanya, PKPI akan terus berjuang melalui upaya hukum di PTUN.

“Sesuai dengan petunjuk pak ketum (Hendropriyono), kita semua sepakat untuk terus melakukan upaya hukum berupa gugatan ke PTUN,” kata Imam di Kantor Bawaslu, Jakarta, Selasa (6/3).

Bahkan, kata Imam, pihaknya akan sesegera mungkin menyusun gugatannya untuk disampaikan kepada PTUN. Dirinya pun mengaku bertekad untuk mengejar keadilan sampai dimanapun. “Besok kita akan ajukan,” pungkasnya.

PKPI diketahui sebelumnya bernama Partai Keadilan dan Persatuan (PKP), adalah sebuah partai politik di Indonesia. Partai ini dideklarasikan di Jakarta tanggal 15 Januari 1999.

PKPI pertama kali ikut serta dalam Pemilu 1999 yang bermula dari dibentuknya Gerakan Keadilan, dan Persatuan Bangsa (GKPB) pada tahun 1998 yang dikomandoi oleh Siswono Yudhohusudo dan Sarwono Kusumaatmadja, David Napitupulu dan Tatto S. Pradjamanggala. Saat ini Ketua Umum PKPI dijabat oleh AM Hendropriyono, sejak 27 Agustus 2016.

Diketahui Abdullah Makhmud (AM) Hendropriyono merupakan tokoh militer Yogyakarta 7 Mei 1945 yang terkenal dalam dunia intelejen nasional.

Mantan Menteri Transmigrasi dan Pemukiman Perambah Hutan dalam Kabinet Pembangunan VII dan Kabinet Reformasi Pembangunan dari tahun 1998 hingga 1999 ini juga dikenal sebagai Kepala Badan Intelejen Negara (BIN) pertama, ia dijuluki The Master of Intelligence karena menjadi “Profesor Intelijen” pertama di dunia. (aim/JPC)

 

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...