Kisah Penumpang Pesawat Merpati yang Jatuh di Gorontalo, Enam Hari di Hutan Tanpa Makanan

  • Bagikan
Warga menemukan bangkai pesawat Merpati yang celaka pada 1991 di Gunung Tihengo, Februari 2018. (Istimewa)

FAJAR.CO.ID, GORONTALO – Hari itu, Rabu 30 Januari 1991. Cuaca Kota Manado sangat cerah, termasuk di kawasan Bandara Sam Ratulangi. Tidak ada tanda-tanda cuaca buruk.Jadwal penerbangan sesuai dengan scedule. Di approne bandara, pesawat Casa 212 seri 200 dengan nomor register PK-NYC, milik maskapai penerbangan Merpati Nusantara Airlines (MNA), sudah siap menerbangkan penumpang. Tujuanya ke Gorontalo.Jelang pukul 14.00 wita, 18 orang penumpang Merpati sudah dipersilahkan menuju pesawat berbadan putih itu. Tidak lama lagi, lepas landas.”La Ode (La Ode Haimudin, wakil ketua Deprov Gorontalo saat ini) sangat beruntung. Dia tidak ikut naik pesawat, hanya mengantarkan saya di bandara. Padahal masih satu sheat yang kosong,”kenang Erwin Giasi kepada Gorontalo Post (Jawa Pos Group), Rabu (7/3).Erwin merupakan salah satu penumpang pesawat berbaling-baling ganda itu. Peristiwa 27 tahun silam itu, masih terekam baik diingatanya.Tepat pukul 14.20 wita, pesawat dengan awak masing-masing Yus Pagau (Pilot), Andi Pulgandi (co Pilot), dan Petrus Untung Abadi (teknisi) lepas landas dari bandara Sam Ratulangi, Manado.Waktu jelajah sudah diperkirakan 55 menit. Pesawat harus mendarat di Bandara Djalaludin Gorontalo pukul 15.15 wita.Di dalam pesawat, para penumpang kebagian snack, sebuah roti dan air mineral yang merupakan layanan maskapai. 30 menit mengudara, pilot sudah mengabarkan jika Casa 212 akan mendarat pukul 15.12 wita, 3 menit lebih cepat.

  • Bagikan