Catut Menteri Keuangan dan Ditkrimsus Polda Sulsel, Dua Warga Sidrap Diciduk

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR -- Pelaku penipuan online yang mengatasnakan pejabat negara berhasil ditangkap Tim Cyber Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimus) Polda Sulsel, Jumat (09/03/2018) sekitar pukul 21.00 Wita. Kedua pelaku penipuan online shop ini berinisial RG (29) dan A (29). Mereka ditangkap ditempat berbeda yakni di Kampung Tanete, Dusun Tanete, Kecamatan Maritengngae, Kabupaten Sidrap dan Jalan Singa Kabupaten Sidrap. Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Dicky Sondani mengatakan, kedua pelaku ini mengaku sebagai Direktur Reskrimsus Polda Sulsel, Kombes Pol Yudhiawan Wibisono serta Menteri Keuangan Sri Keuangan, Sri Mulyadi untuk meminta sejumlah uang kepada korbannya. "Untuk memperlancar aksi penipuan mereka. Maka pelaku berpura-pura mengaku sebagai petugas Beacukai yang menahan barang yang dibeli korban dengan alasan barang ilegal, kemudian meminta sejumlah uang dengan alasan akan membantu korban," ungkap Dicky Sondani saat rilis di Mapolda Sulsel, Senin (12/03/2018). Lanjut Dicky, pelaku berpura-pura sebagai dari pihak Beacukai untuk memeras korban mengirimkan sejumlah uang ke beberapa rekening yang digunakan pelaku dengan janji akan dibantu untuk proses peradilannya nanti. "Tersanga mengaku sebagai Kombes Pol Yudhiawan yang akan membantu proses pencairan pengembalian dana korban. Selain itu, tersangka juga mengaku sebagai Menteri Keuangan, Sri Mulyani yang akan membantu korban dalam proses pengembalian dana korban. Akibatnya korban menderita kerugian material sebesar Rp150 juta," sambungnya. Berdasarkan keterangan RG,  penipuan awalnya dilakukan oleh rekannya yang berinisial S, selaku pemilik akun facebook Deby Ardi Wiyanto. "Setelah dioper ke RG mengaku sebagai petugas Bea Cukai dan Menteri Keuangan, Sri Mulyani. Sementara A mengaku sebagai Kasubdit III Tipikor Ditreskrimsus Polda Sulsel, Kombes Pol Yudhiawan Wibisono," pungkasnya. Adapun barang bukti yang berhasil diamankan yakni satu unit HP merek Nokia 6030b, satu unit HP merek Nokia tipe RH-18 dan satu unit HP merek Nokia tipe 105. "Tersangka ini dikenakan pasal 28 ayat 1 junto pasal 36 junto pasal 51 ayat 2 UU RI No 19 tahun 2017 tentang perubahan UU No 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) diancam pidana penjara paling lama 12 tahun dan atau denda paling banyak Rp. 12 milyar," tutupnya.(sul)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : irwan kahir

Comment

Loading...