Mentan Amran Hadiri Panen Raya Bawang Putih di Banyuwangi

0 Komentar

FAJAT.CO.ID, BANYUWANGI – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman dijadwalkan hadir pada panen raya Bawang Putih di Desa Tamansari, Kecamatan Licin, Kabupaten Banyuwangi pada, Kamis (22/3).

Berdasarkan keterangan yang diterima Fajar.co.id dari Humas Ditjen Hortikultura Kementan, panen yang berlangsung di lahan dengan luas 116 hektar ini juga akan dilakukan tanam perdana oleh Mentan Amran usai panen raya dilakukan.

Sebelumnya, petani setempat sudah melakukan penanaman Bawang Putih ini sejak 2 November 2017 kemarin.Adapun varietas yang banyak ditanam yaitu bawang putih jenis lumbu kuning dan lumbu hijau yang benihnya didatangkan dari sentra bawang putih Parakan, Temanggung, Jawa Tengah.

Jenis tanah pada lahan milik PT Perkebunan Lidjen dengan status Hak Guna Usaha (HGU) itu umumnya adalah andisol dan inceptisol. Kedua jenis tanah itu tergolong subur dan sangat sesuai untuk budidaya bawang putih.

Dijelaskan pula dalam keterangan tersebut bahwa lahan yang digunakan itu sebenarnya sudah terlantar selama 6 tahun lebih, kondisinya tidak terawat dan kurang produktif. Sebagian besar lahan pun pada awalnya hanya ditanami kayu hutan dan Jati Putih (gmelina arboria).

Penanaman bawang putih itu merupakan sebagian kecil dari upaya Kementan dalam meminta peran importir dalam rangka mendukung pencapaian target swasembada bawang putih nasional yang dicanangkan mereka.

Untuk swasembada bawang putih, pemerintah memerlukan sekurang-kurangnya 73.000 hektar. Rinciannya adalah 60.000 hektar untuk produksi bawang putih konsumsi dan 13.000 hektar untuk produksi benih.

Hal itu guna melaksanakan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 38 tahun 2017 yang mewajibkan pelaku usaha untuk menanam dan menghasilkan bawang putih sebanyak 5 persen dari volume permohonan Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) dan kewajiban tanam.

Aturan tersebut diakui turut mendorong pengembangan bawang putih di tanah air, termasuk Banyuwangi. Walaupun diakui pula pada awalnya, kebijakan kewajiban tanam bawang putih dipandang sebagai sesuatu yang memberatkan bagi importir. Pelaksanaan aturan itu menemui berbagai kendala. Misalkan kesulitan dalam penentuan lahan yang sesuai, penyediaan benih, kesiapan SDM petani, infrastruktur, administrasi dan lain sebagainya.

Namun, seiring dengan pendampingan dari Kementerian Pertanian dan Dinas Pertanian Provinsi ataupun Kabupaten, berbagai kendala yang dihadapi para pelaku usaha untuk membudidayakan bawang putih pun relatif dapat teratasi.

Bahkan, penanaman bawang putih itu berdampak positif bagi warga sekitar. Contoh konkretnya adalah berdampak pada terciptanya lapangan pekerjaan baru dengan pola padat karya. Warga sekitar yang biasa mencari rumput untuk binatang ternak mereka pun ikut terbantu.

Realnya, jumlah tenaga kerja yang bisa terserap untuk tenaga dongkel tunggak sampai dengan tanam saja mencapai 600 sampai dengan 830 orang. Itupun pada panen puncak bisa mencapai 1.030 orang yang berasal dari empat kecamatan, yakni kecamatan Licin, Glagah, Kalipuro dan Giri.

Sampai dengan Maret 2018, Kementerian Pertanian telah menerbitkan RIPH Bawang Putih untuk 41 importir, dengan volume pengajuan total 456.644 ton. Hadir dalam panen raya Bawang Putih ini juga Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas dan para staf Dirjen Kementerian Pertanian. (Aiy/Fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...