‘Nyanyian’ Setnov untuk Ciptakan Aktor dan Sensasi Baru

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Terdakwa kasus dugaan korupsi e-KTP, Setya Novanto membeberkan keterlibatan Puan Maharani yang merupakan putri Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan mantan sekjen PDIP Pramono Anung, dalam proyek yang telah merugikan negara sampai triliunan rupiah itu.

Kedua petinggi partai PDIP itu disebut telah menerima masing-masing sebesar USD 500 ribu melalui tangan orang kepercayaan Setya Novanto, Made Oka Masagung yang juga merupakan tersangka e-KTP.

Menanggapi hal itu, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Fahri Hamzah mengatakan, dirinya menilai penyebutan nama Puan dan Pramono oleh Novanto dalam sidang, hanya sebuah sensasi belaka. Dirinya pun menyebut tak ada yang baru dari kasus korupsi proyek pengadaan e-ktp.

“Inikan another sensation, festival baru. Tapi apa manfaatnya buat kita? Fokus kita itukan adalah kerugian negara, itu yang saya tantang terus,” cetus Fahri di Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (22/3).

Menurut Fahri, nasib mantan ketua Umum partai Golkar itu hanya akan berakhir sama seperti mantan bedahara umum partai Demokrat, M Nazaruddin. Yakni, ditekan untuk menyebutkan nama agar bisa terus menciptakan sensasi belaka.

“Ya sama (dengan Nazaruddin). Ini kan istilahnya itu menciptakan aktor baru dan sensasi baru. Apa yang baru? Enggak ada yang baru kok,” tegasnya.

Lebih lanjut, Fahri menambahkan, jika terdakwa kasus korupsi e-KTP terus ditekan untuk menyebutkan nama lain, maka bukan tidak mungkin semua akan terkena imbasnya. Tidak terkecuali Presiden Jokowi.

“Ya seperti presiden yang lain-lain kan udah jadi korban. Ya sebenarnya ini kan presiden yang lalu jadi korban. Cuma kan presiden yang akan datang juga akan jadi korban. Karena itulah kembalikan ini ke mekanisme audit. Hentikan itu ngurus orang bagi-bagi keuntungan dalam proyek negara,” pungkasnya.

“Itu yang saya bilang, Pak Jokowi kalo dia mimpin pemberantasan korupsi ini waktunya. Ini kan kena pukul juga akhirya, partai beliau juga kena pukul. Kasian kan? ” lanjutnya.

Sebagai informasi, terdakwa kasus dugaan korupsi e-KTP Setya Novanto menyebut Puan Maharani dan Pramono Anung terlibat dalam proyek yang telah merugikan negara sampai triliunan rupiah itu. Keduanya disebut telah menerima masing-masing sebesar USD 500 ribu.

Saat itu, Setya Novanto mengatakan, informasi keterlibatan keduanya didapat dari Made Oka dan Andi Agustinus alias Andi Narogong usai berkunjung ke kediamannya.

“Oka menyampaikan dia menyerahkan uang ke dewan, saya tanya ‘wah untuk siapa?’. Disebutlah tidak mengurangi rasa hormat, saya minta maaf, waktu itu ada Andi untuk Puan Maharani USD 500ribu dan Pramono USD 500ribu,” kata Setya Novanto di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Kamis. (Fajar/JPC)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...