Kelangkaan Elpiji Bikin Anggota Dewan Berang

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, TANJUNG REDEB – Persoalan kelangkaan elpiji 3 kilogram (kg) yang terjadi beberapa bulan ini menarik perhatian sejumlah pihak. Bahkan, DPRD Berau sampai melakukan hearing terkait elpiji 3 kg dua pekan lalu. Sekretaris Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Berau Rudy Nurul Salim pun menyarankan kepada pemerintah, terutama Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) tidak sekadar mengatur harga eceran tertinggi (HET) di agen. Tetapi juga ikut memperhatikan alur distribusi elpiji melon itu.

“Kalau hanya HET-nya, tidak menyelesaikan masalah. Tapi yang patut diperhatikan adalah alur distribusinya. Sebab, itu barang subsidi dan kuotanya sudah teratur, tentu harganya tetap. Nah, mahal dan langkanya elpiji itu karena ongkos angkut yang tidak dikontrol,” katanya kepada Berau Post, Jumat (30/3).

Secara kuota, elpiji melon yang didapat Kabupaten Berau untuk masyarakat tidak mampu sebanyak 1.700.046 tabung pada 2017 lalu. Tahun ini, jumlah tersebut dipastikan bertambah. Pertamina memberi jatah kepada Berau sebanyak 1.862.160 tabung. Menganalisis dari jumlah itu, Rudy pun meyakini, kelangkaan karena distribusinya tidak tepat sasaran. Bukan hanya target penerima elpiji 3 kg.

“Tentu targetnya juga mungkin tidak tepat sasaran. Tapi yang patut diperhatikan adalah distribusinya. Karena yang patut dipertanyakan adalah ke mana 1 juta lebih tabung itu?” katanya. Sebab, untuk mengukur harga satu barang di Berau, tidak bisa mengacu pada Tanjung Redeb saja. Jarak tempuh yang jauh dan infrastruktur yang belum merata turut memengaruhi harga barang tersebut. Termasuk elpiji yang diperuntukkan kepada masyarakat tidak mampu.

“Formula distribusi harus dipelajari pemerintah. Sebab, jika tidak diperhatikan dengan jeli, akan ada selisih yang besar. Jangan dikira selisih harga Rp 1.000 per tabung itu kecil. Karena dikalikan ribuan tabung. Ini yang terkadang memberatkan agen,” terangnya.

Sebelumnya, Kepala Disperindagkop Berau Wiyati menegaskan, tidak terjadi kelangkaan tabung gas elpiji 3 kg di Berau. Hanya, jumlahnya dibatasi karena memang diperuntukkan bagi keluarga miskin. Hal ini pun menjawab pertanyaan masyarakat di lapangan yang menyebut elpiji melon tersebut mulai langka di Bumi Batiwakkal.

Lebih lanjut, Wiyati menjelaskan, Disperindagkop Berau tidak memiliki kewenangan untuk mengatur pendistribusian elpiji. Tetapi, pihaknya memiliki kewajiban mengatur distribusi agar elpiji 3 kg di Berau bisa tepat sasaran.

“Salah satu yang kami lakukan adalah kembali mendata pelaku usaha kecil menengah (UKM) yang ada di Berau. Jika semua sudah selesai, kami yakin pendistribusian akan tepat sasaran,” ungkapnya beberapa waktu lalu. Berdasarkan hasil pendataan penggunaan tabung gas elpiji 3 kg, penggunaannya diakui Wiyati belum tepat sasaran. Sebab, yang menggunakan gas melon tersebut masih lebih banyak kalangan menengah ke atas. “Seharusnya kan gas elpiji 3 kilogram itu untuk masyarakat tidak mampu dan UKM yang berpenghasilan kurang dari Rp 1,5 juta per bulan,” ujarnya.

Sejak memasuki 2018, Disperindagkop telah melakukan koordinasi dengan seluruh agen elpiji di Berau agar mendatangkan elpiji 3 kg sesuai dengan data penduduk kurang mampu dan UKM. “Data tabung yang ada saat ini sekitar 1.000–1.500 tabung dalam sebulan untuk satu agen. Agen yang ada di Berau saat ini ada empat agen dan 89 pangkalan,” katanya.

Diwawancarai terpisah, Kepala Subbagian Bina Perekonomian Berau Indah Ariani memastikan, untuk elpiji 3 kg bersubsidi, belum ada kenaikan harga. Kenaikan itu diatur oleh pemerintah pusat. “Harga jual tabung gas elpiji 3 kg kepada pangkalan tetap sesuai HET (harga eceran tertinggi), yakni Rp 20.250 per tabung. Kendati demikian, jika harga agen ke pangkalan bisa berselisih lebih tinggi, ini akibat biaya angkut yang dikeluarkan pangkalan,” tandasnya. Dirinya juga mengimbau agar masyarakat langsung membeli gas di pangkalan. Indah mengingatkan kepada masyarakat dari golongan mampu untuk tidak menggunakan tabung gas 3 kg. (rio2/iza/k11)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...