Nyanyian Setya Novanto Ibarat Pisau Bermata Dua

FAJAR.CO.ID, JAKARAT - Skandal korupsi proyek KTP Elektronik mulai terkuak sejak mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Nazaruddin menyebut sejumlah nama yang diduga terlibat dalam mega korupsi KTP Elektronik.

Sejak itu, pernyataan Nazaruddin menggemparkan publik dan jagad politik nasional. Berangkat dari keterangan Nazaruddin, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mulai menelusuri kasus korupsi yang merugikan negara Rp.2,3 triliun itu. Alhasil, sejumlah nama sudah ditetapkan sebagai tersangka, termasuk Setya Novanto mantan ketua umum Partai Golkar yang dikenal sangat “licin” akhirnya menjadi tersangka.

Tidak dipungkiri, bahwa sejumlah orang yang ditetapkan sebagai tersangka bersumber dari keterangan Nazaruddin, termasuk nama Novanto yang pernah disebut Nazaruddin dalam cuitannya beberapa tahun silam.

"Namun hingga saat ini tidak semua nama yang disebut Nazaruddin menjadi tersangka," kata Direktur Ekskutif Indonesian Public Institute (IPI), Karyono Wibowo di Jakarta, Senin (2/4).

Lalu, apakah Nazaruddin berbohong? Kata Karyono, itu belum tentu. Mungkin sejumlah nama yang belum ditetapkan menjadi tersangka belum atau tidak cukup alat bukti atau ada faktor lain.

Namun, lanjut Karyono, tentu tidak menutup kemungkinan ada agenda politik di balik itu. Lantas jika ada kepentingan politik, siapa yang bermain? Disinilah rumitnya, sejauh belum ditemukan alat bukti yang cukup, maka tidak mudah untuk menyebut nama siapa yang 'bermain politik' di balik sejumlah kasus tersebut.

Namun, yang pasti, dari berbagai cuitan tersebut ada pihak yang dirugikan dan ada yang diuntungkan secara politis. Dalam konteks ini, ada dua hipotesa yaitu apakah yang terjadi adalah kepentingan politik 'menumpang' kasus hukum atau kasus hukum berimplikasi politik karena yang diduga terlibat kebetulan memiliki hubungan dengan kekuasaan politik tertentu.

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Hariman Kaimuddin

Comment

Loading...