Kejari Bandung Resmi Tahan Tersangka Korupsi Pembangunan Bank BJB Tower

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Kejaksaan Negeri Bandung menjebloskan  Direktur Utama PT Comradindo Lintanusa Perkasa (CLP) Tri Wiyasa ke balik jeruji besi. Triwiyasa merupakan tersangka kasus dugaan korupsi pembangunan Bank BJB Tower,  Kav 93, Jalam Gatot Subroto, Jakarta Pusat yang merugikan negara ratusan miliar rupiah.

Penahanan dilakukan setelah tim penyidik pidana khusus Kejaksaan Agung melimpahkan tersangka Triwiyasa dan barang bukti (tahap dua) ke tim jaksa penuntut umum Kejari Bandung.

“Tersangka dilakukan penahanan oleh tim JPU Kejari Bandung, penahanan di Rutan Kebun Waru Bandung untuk 20 hari kedepan,” kata Kepala Pusat Penerangan Hukum ( Kapus Penkum), Muh Rum di Kejaksaan Agung, Jakarta, Selasa (3/4).

Dia menjelaskan penahanan berdasarkan Surat Perintah Penahanan Kepala Kejaksaan Negeri Bandung Nomor: Print-956/O.2.10/Ft.1/03/2018 tanggal 28 Maret 2018. Penahan dilakukan dengan dua alasan yakni tersangka diancam pidana penjara lebih dari 5 (lima) tahun dan tersangka dikhawatirkan melarikan diri, merusak atau menghilangkan barang bukti dan/atau mengulangi tindak pidana.

“Kerugian keuangan negara senilai Rp. 298.870.000.000,- berdasarkan Laporan Hasil Audit BPKP RI,” tutupnya.

Sebelumnya, Mantan Kepala Divisi Umum Bank Jabar Banten (BJB), Wawan Indrawan telah dijebloskan ke penjara oleh jaksa eksekutor lantaran terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi Rp217 miliar sesuai putusan Mahkamah Agung (MA) yang menjatuhkan vonis 8 tahun penjara setelah divonis bebas olehPengadilan Tipikor Bandung,  Senin (14/12/2015) lalu.

Sedahgkan Tri Wiyasa sebelumnya sempat dijadikan tersangka bersama Wawan,  namun Tri melarikan diri sampai dinyatakan buron ketika Wawan ditahan dan diajukan ke pengadilan. 

Saat Wawan diputus bebas, Tri dalam status buron mengajukan gugatan pra-peradilan ke Pemgadilan Negerl Jakarta Selatan. Hebatnya, gugatan Tri dikabulkan dan Sprindik atas dirinya dinyatakan tidak sah,  2016. Lalu penyidik kembali menetapkan Triwiyasa menjadi tersangka.

Kasus berawal saat manajemen Bank Jabar Banten (BJB) menyetujui pembelian 14 dari 27 lantai T-Tower di Jalan Gatot Subroto, Kaveling 93, Jakarta, untuk Cabang Khusus BJB di Jakarta, pada 2006. Pembangunan ini dilakukan dengan bekerjasama dengan PT Comradindo,  yang menyediakan tanah dan biaya ditanggung oleh BJB.

Tim BJB menyepakati harga tanah senilai Rp 543,4 miliar dengan Comradindo. Bank pelat merah membayar uang muka sebesar Rp 217, 36 miliar atau 40 persen dari nilai proyek, pada 12 November 2012. Sedangkan, sisanya  dicicil sebesar Rp 27,17 miliar per-bulan selama setahun. Dalam praktiknya,  tanah itu milik perusahaan lain. 

Wawan sebagai Ketua Panitia Pengadaan Tanah dan/atau Bangunan Bank Jabar dan Banten dianggap berperan dalam proyek yang disebut merugikan negara sebesar Rp 217 miliar. (Lan/fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...