Sukmawati Jauh Lebih Parah Ketimbang Ahok

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Puisi karya Sukmawati Soekarnoputri yang berjudul ‘Ibu Indonesia’ terus menuai polemik dan pro-kontra di kalangan publik.

Penyebabnya, pusisi tersebut dianggap memiliki unsur provokasi berbau suku, ras, agama dan antargolongan (SARA).

Terutama saat ia membandingkan cadar dengan konde serta adzan dengan kidung yang dinilai menyudutkan syariat Islam.

Akan tetapi, ulah Sukmawati itu dianggap jauh lebih parah dengan apa yang sudah dilakukan mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Demikian disampaikan politisi Hanura Amron Asyari menanggapi puisi ‘Ibu Indonesia’ karya Sukmawati itu.

“Kita bisa lihat sendiri, sajak atau puisi yang dibacakan itu ini lebih parah dibandingkan pernyataannya Ahok,” ujarnya di Mapolda Metro Jaya, Senin (3/4/2018).

Ada hal krusial yang membuat ulah Sukmawati jauh lebih parah ketimbang Ahok saat menyinggung Al Maidah 51 di Kepulauan Seribu.

Menurutnya, pernyataan Ahok saat itu muncul secara responsif dan tidak mempersiapkannya secara matang.

Sedangkan puisi Sukmawati, jelas-jelas sudah melalui proses dan persiapan yang matang dan terencana.

“Namanya puisi kan sudah dia catat, dia baca dan dia kaji secara berulang-berulang. Setelah itu dituangkan. Sebenarnya, ini lebih parah dibandingkan Ahok,” kata Amron.

Sebagai putri seorang proklamator, lanjutnya, Sukmawati seharusnya tidak menciptakan puisi yang tidak berpotensi memecahbelah bangsa.

Semestinya, ia bisa melakukan upaya untuk merekatkan bangsa dan membuat situasi masyarakat bisa lebih tentram dan damai.

“Dia sebagai publik figur lebih mengutarakan sajak atau puisi yang lebih merangkul, mengayomi,” tutup dia.

Untuk diketahui, Sukmawati sebelumnya sudah dilaporkan ke Polda Metro Jaya oleh politisi Hanura Amron Asyari.

Laporan polisi itu diterima dengan nomor LP/1785/IV/2018/PMJ/Dit. Reskrimum.

Amron melaporkan Sukmawati dengan Pasal 156 a KUHP tentang Penistaan Agama.

Sebelumnya, Sukmawati mengaku sama sekali tak menyiggung soal SARA dalam puisi yang ia buat itu.

Ia menegaskan apa yang dia tulis itu adalah suatu realitas tentang Indonesia.

Dalam menciptakan puisi itu, katanya, dirinya menyelami lebih dulu pikiran rakyat indonesia.

Utamanya dari daerah yang tak mengerti syariat Islam seperti di Indonesia Timur, Bali dan daerah lainnya.

“Di dalam puisi itu, saya mengarang cerita. Mengarang puisi itu seperti mengarang cerita,” jelasnya.

Lebih lanjut, Sukmawati menegaskan bahwa apa yang ada di dalam puisi karyanya itu adalah pendapatnya secara jujur.

“Soal kidung ibu pertiwi Indonesia lebih indah dari alunan azanmu, ya boleh aja dong,” katanya.

Sebab menurutnya, tak selalu orang yang mengumandangkan azan itu bersuara merdu.

“Itu suatu kenyataan. Ini kan seni suara ya. Dan kebetulan yang menempel di kuping saya adalah alunan ibu-ibu bersenandung, itu kok merdu,”

“Itu kan suatu opini saya sebagai budayawati,” jelas Sukmawati.

Ia kemudian menyarankan orang-orang yang mengumandangkan azan adalah orang-orang pilihan dengan suara merdu dan enak didengar sebagai panggilan waktu shalat.

“Kalau tidak ada, akhirnya di kuping kita kan terdengar yang tidak merdu,” sambungnya. (Fajar/pojoksatu)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...