Nyaris Mati Gara-gara Makan Buah Beracun

Rabu, 4 April 2018 - 00:58 WIB

FAJAR.CO.ID, PALANGKA RAYA – Berharap menikmati lezatnya rasa buah-buahan untuk dibuat pencok (rujak) buah, ketika memakan dan mengkonsumsi buah hutan lokal bernama Ketatau, pengalaman menyedihkan justru dirasakan. Enam ibu-ibu  nyaris berjumpa “sang pencabut nyawa” di Kelurahan Danau Tundai, Kecamatan Sabangau, Palangka Raya usai mencokan arau rujakan buah Ketatau.

Peristiwa keracunan itu menimpa Imur, Ida, Rudiana, Darsih, Asep dan Sika, Sabtu (31/3) siang. Beruntung bagi lima warga lain yang bisa cepat tertolong dan diselamatkan. Tetapi apes agak panjang dirasakan Imur yang harus dirawat di RSUD dr Doris Sylvanus. Insiden itu ketika  sedang berkumpul untuk makan Ketatau jadikan pencok buah.

Ketika menikmati buah itu mereka belum merasakan apa-apa. Namun siang harinya efek racun dari buah itu beraksi hingga mereka mengalami mual dan muntah-muntah. Melihat kondisi para korban lemah kerabat pun langsung membawa ke rumah sakit. Berdasarkan pemeriksaan kondisi Imur dikategorikan parah hingga harus dirawat. Sementara lainnya diperbolehkan pulang.

Kapolsek Sabangau Ipda Yusuf Priyo, Minggu (1/4) siang mengatakan seluruh korban mengkonsumsi buah hutan lokal bernama Ketatau. Semua korban merasakan mual dan muntah. Hingga akhirnya dibawa ke IGD RSUD dr Doris Sylvanus.

“Kemarin itu lima korban sudah diperbolehkan pulang. Sedangkan satu korban bernama  Imur masih menjalani rawat inap karena masih lemah dan memiliki riwayat penyakit Maag,” ucapnya.

Pamen Polri ini menyampaikan sebenarnya buah Ketatau itu bisa dikonsumsi dan dimakan asal diproses terlebih dulu. Seperti merebus terlebih dulu, namun tidak bisa langsung disantap apalagi dijadikan pencok, walaupun rasanya manis manis asem.

“Warga sebenarnya sering makan buah itu, tetapi diproses dulu. Buah itu  memang biasa dibuat keripik, namun diproses dengan direbus terlebih dulu baru digoreng, bukan dijadikan pencok hingga keracunan pun terjadi,” jelasnya.

Priyo menambahkan buah itu memang banyak di kawasan Danau Tundai dan merupakan buah hutan. Namun tidak bisa dikonsumsi langsung dan beruntungnya para korban segera dievakusi untuk mendapat perawatan medis.

“Kondisi Imur sudah membaik tetapi masih dirawat untuk pemulihan. Mual, muntah dan pusing kepala dirasakan para korban, maka itu untungnya cepat ditangani jika tidak bisa fatal, mungkin mereka makan banyak makanya efeknya jadi keracunan,” pungkas Priyo. (daq/vin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *