Transportasi Sulit, Biaya Carter Mobil Seharga Motor Baru

Rabu, 4 April 2018 - 06:03 WIB

Memasuki usia yang ke lima tahun, Daerah Otonomi Baru (DOB) Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) terbilang masih perlu banyak berbenah. Utamanya pada sisi infrastruktur jalan dan jembatan.

IWAN KURNIAWAN

SEBAGAI daerah yang baru terbentuk, Kaltara terbilang masih sangat minim dari sentuhan pembangunan infrastruktur, baik itu jalan dan jembatan. Utamanya di daerah perbatasan dan pedalaman.

Padahal, masyarakat di perbatasan dan pedalaman provinsi termuda di Indonesia ini juga mengharapkan hal yang sama dengan mereka yang tinggal di perkotaan, yakni menikmati infrastruktur yang memadai.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Radar Kaltara dari beberapa sumber, salah satunya anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kaltara, Listiani, bahwa masyarakat yang tinggal di daerah perbatasan dan pedalaman masih membutuhkan uluran tangan pemerintah.

Seperti di Desa Long Kebinu, Kecamatan Mentarang Hulu, Malinau, misalnya. Untuk sampai ke daerah pedalaman Kaltara itu, memang sudah ditembusi akses melalui jalur darat. Hanya saja kondisi jalannya masih sangat memprihatinkan. Mobil double gardan atau 4 wheels drive (WD), seperti Strada yang bisa tembus sampai tujuan.

Itupun tidak semulus yang dibayangkan. Karena di titik-titik tertentu, penumpang harus turun karena mobil harus ditarik oleh kendaraan lain. Hal itu biasa terjadi seperti di kubangan dan tanjakan yang terjal.

Sesuai pengalamannya, Listiani menceritakan, dari Malinau Kota ke Long Kebinu, dirinya sempat ganti kendaraan. Pertama dari Malinau Kota ke Long Berang dengan watu perjalanan sekitar lima jam. “Itu (dari Malinau Kota ke Leng Berang, Red) harus carter, tidak ada angkutan umum di sana. Satu kali jalan Rp 8 juta,” ungkapnya.

Selanjutnya, dari Long Berang ke Long Kebinu membutuhkan waktu sekitar lima jam lagi. Itu dengan ongkos carter yang sama, yakni Rp 8 juta. Artinya, total waktu yang dibutuhkan untuk perjalan ke Long Kebinu sekitar 10 jam dan membutuhkan ongkos Rp 16 juta.

Sungguh besar biaya yang harus dikeluarkan oleh masyarakat untuk bisa kelaur ataupun masuk ke daerah tersebut. Jadi, selain membutuhkan perjuangan dan kesabaran untuk bisa sampai ke daerah pedalaman provinsi ke-34 ini. Juga dibutuhkan biaya yang tidak sedikit agar bisa sampai ke tujuan.

Bahkan, dengan kondisi alam, beberapa titik jalan saat ini sudah ada yang longsor, sehingga kendaraan sudah tidak bisa melintas di jalur tersebut dan terpaksa kembali menggunakan akses transportasi sungai.

Itupun, masyarakat harus berani dan nakhodanya harus yang benar-benar sudah memahami kondisi jalur perlintasan. Karena jika tidak, bukan hanya bisa berkorban harta benda, tapi juga bisa korban nyawa.

“Saya waktu itu terpaksa pulang (ke Malinau Kota, Red) naik longboat. Karena informasinya ada jalan yang putus, jadi mobil yang dicarter terpaksa ditinggal sampai jalan dapat dilewati,” katanya.

Melalui jalur sungai itu, kata politisi Partai Demokrat ini, juga membutuhkan waktu sekitar lima jam. Bahkan, sedikitnya ada lima titik batu jeram yang harus dilewati untuk bisa sampai ke tujuan.

Untuk lebih mempermudah dan tidak membahayakan, masyarakat setempat sudah meminta pemerintah melakukan pengeboman batu jeram besar yang ada di tengah sungai. “Itu (minta batu jeram dibom, Red) disampaikan ke saya. Itu tetap akan saya sampaikan nantinya sebagai aspirasi dari masyarakat, jadi nanti instansi terkait yang melakukan kajian, bisa atau tidak,” sebutnya.

Tak hanya itu, beberapa daerah yang ada di perbatasan dan pedalaman di Kaltara ini juga masih mengalami hal yang sama. Sehingga salah satu solusi yang ditawarkan untuk membuka keterisoliran dan mempercepat pembangunan yaitu pembentukan daerah otonomi baru (DOB).

Pastinya, sejauh ini pemerintah sudah mulai berbuat dengan membuka beberapa ruas jalan dengan maksud untuk membuka keterisoliran yang selama ini terjadi. “Seperti Pemkab Malinau. Di tengah kesulitan anggaran seperti sekarang ini, apapun yang terjadi mereka tetap berusaha melakukan keterisoliran dengan cara membuka jalan tembus ke permukiman,” sebutnya. (***/eza)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *