Eks Dirut Pertamina Dicekal ke Luar Negeri

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Kejaksaan Agung ternyata telah mecegah Mantan Dirrektur Utama PT Pertamina, Karen Galaila Agustiawan berpergian ke luar negeri sejak statusnya masih sebagai saksi. Kini bekas orang nomor satu di PT Pertamina itu sudah berstatus tersangka.

“Sudah kita cegah yang bersabgkutan sebelum ditetapkan sebagai tersangka,” kata Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Dirdik pada Jampidsus), Warih Sadono saat dikonfirmasi, Kamis (5/4).

Sementara, Kabag Humad Ditjen Imigradi Kemenkumham, Agung Sanpurno membenarkan soal adanya permintaan pencegahan atas nama Karen Agustiawan oleh Kejaksaan.

“Diperpanjang pencegahannya sampai dengan 4 Oktober 2018,” singkatnya.

Sebelumnya, Kejaksaan Agung akhirnya menetapkan Mantan Direktur Utama PT Pertamina persero Karen Galaila Agustiawan sebagai tersangka

Kasus dugaan korupsi penyalahgunaan investasi pada Pertamina di Blok Basker Manta Gummy (BMG) Australia tahun 2009 yang merugikan negara Rp 568 miliar.

Penetapan tersangka Karen Agustiawan berdasarkan Surat Perintah Penetapan Tersangka Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Nomor: Tap-13/F.2/Fd.1/03/2018 tanggal 22 Maret 2018.

Selain menetapkan Karen Galaila Agustiawan, kata Moh Rum, penyidik juga menetapakan dua tersangka lainnya yakni, Genades Panjaitan selaku Chief Legal Councel and Compliance PT. Pertamina (persero) berdasarkan Surat Perintah Penetapan Tersangka Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Nomor: Tap-14/F.2/Fd.1/03/2018 tanggal 22 Maret 2018.

Lalu Frederik Siahaan mantan Direktur Keuangan PT. Pertamina (persero) berdasarkan Surat Perintah Penetapan Tersangka Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Nomor: Tap-15/F.2/Fd.1/03/2018 tanggal 22 Maret 2018.

Dalam kasus ini penyidik sebelumnya telah menetapkan tersangka BK, mantan Manager Merger & Acquisition (M&A) Direktorat Hulu PT. Pertamina (Persero) berdasarkan Surat Perintah Penetapan Tersangka Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Nomor: TAP-06/F.2/Fd.1/01/2018 tanggal 23 Januari 2018.

Kasus itu berawal pada 2009 PT Pertamina (Persero) telah melakukan kegiatan akuisisi (Investasi Non Rutin) berupa pembelian sebagian asset (Interest Participating/ IP) milik ROC Oil Company Ltd di lapangan Basker Manta Gummy (BMG) Australia berdasarkan Agreement for Sale and Purchase-BMG Project tanggal 27 Mei 2009.

Dalam pelaksanaanya ditemui adanya dugaan penyimpangan dalam pengusulan Investasi yang tidak sesuai dengan Pedoman Investasi dalam pengambilan keputusan investasi tanpa adanya Feasibility Study (Kajian Kelayakan) berupa kajian secara lengkap (akhir) atau Final Due Dilligence dan tanpa adanya persetujuan dari Dewan Komisaris, yang mengakibatkan peruntukan dan penggunaan dana sejumlah USD 31,492,851 serta biaya-biaya yang timbul lainnya (cash call) sejumlah USD 26,808,244 tidak memberikan manfaat  ataupun keuntungan kepada PT. Pertamina dalam rangka penambahan cadangan dan produksi minyak nasional yang mengakibatkan adanya kerugian keuangan negara cq. PT. Pertamina sebesar USD 31,492,851 dan 26.808.244 dolar Australia atau setara dengan Rp568.066.000.000 sebagaimana perhitungan Akuntan Publik.(Lan/fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...