Guna Kurangi Pengangguran, Mentan Optimalkan Lahan Persawahan di Kalsel

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, BARITO–  Kalimantan Selatan tersedia kurang lebih 67.000 Hektar lahan pertanian. Lahan tersebut tengah dioptimalkan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman secara bertahap guna memejukan perekonomian Indonesia khususnya di pulau Kalimantan.

Di Kecamatan Jejangkit, Desa Jejangkita Muara, Kabupaten Barito Kuala, akan dioptimalkan lahan lebak dan pasang surut sebesar 750 hektar yang hanya memakan biaya 3 sampai 4 juta per H. Kata Amran Sulaiman, anggaran tersebut cukup murah dibanding dengan membangun persawahan yang memakan biaya 16 juta per H.

“Untuk Pasang surut hanya Rp 3 juta H. Lahan Rawa Lebak 4 juta Rp per Hektar. Ini sangat murah dibanding bangun sawah yang Rp 16 juta.” Jelas Mentan saat ikut hadir bersama petani di Lokasi Optimasi Lahan Rawa Lebak dalam rangka hari Pangan Sedunia di Desa Jejangkit Muara, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, (Kalsel), Kamis (5/4).

Keseluruahan pulau Kalimantan, kata Mentan, dirampungkan paling lambat 10 tahun dengan 100.000 hektar pertanian. Jika terwujud, maka bidang pertanian akan meresap tenaga kerja sebanyak 4 juta tenaga kerja di Pulau Kalimantan sendiri

“Kami inginkan Kalimantan tidak tergantung dari Daerah lain Khususnya Kalsel, kemudian kami ekspor ke Negara tetangga. Lahan kita ini sangat subur harus kita produktifkan,” ujar Mentan.

Komuditi yang diunggulakn di Kalsel ada Padi,  Jagung, dan Kedelai. Ketiga komuditi unggul ini, Lanjut Amran Sulaiman,  disesuaikan dengan kebutuhan pasar karena air tersedia sepanjang tahun.

“Hanya butuh pompa yang harganya 150 juta per unit, itu bisa untuk memenuhi kebutuhan air 200 hektar. Biayanya hanya Rp 750 per hektar. Dan ini bisa dipakai ratusan tahun ke depan untuk lahan yang kita bangun,” ujarnya.

Mentan mengatakan, pengelolaan lahan pertanian di Kalimantan, akan digunakan memakai mesin pertanian modern. Dengan ricetransplanter sebagai alat penanaman, combineharvaster sebagai alat memanen. Untuk perbaiki irigasi ada eksafator yang diklaim lebih murah.

“Dulukan gini masih pakai pihak ke tiga (untuk eksafator-red), sekarang kami beli 215 unit, tahun ini ada 500 unit milik negara yang bergerak dikontrol oleh Provinsi,” ujarnya. (dal/fajar).

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...