Jaksa Agung Beberkan Keterlibatan Karen Galaila dalam Kasus Penyalahgunaan Invetasi Pertamina

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Jaksa Agung HM Prasetyo membeberkan dugaan keterlibatan mantan Direktur Utama PT Pertamina Karen Galaila Agustiawan dalam penyalagunaan investasi pada Pertamina di Blik Basker Gummy (BMG) Australia tahun 2009 yang merugikan negara Rp 568 miliar.

Karen Galaila Agustiawan kini sudah menyandang status sebagai tersangka di Kejaksaan Agung. “Jadi kasus ini ditangani sudah cukup lama dan kami sudah mendapatkan banyak barang bukti sebanyak mungkin tentunya penyidik menyimpulkan Karen terlibat pada kasus ini,” katanya di Kejaksaan Agung, Jakarta, Jumat (6/4).

Dia menjelaskan salah hal yang dipersoalkan dan dipermasalahkan oleh tim penyidik yakni soal belum keluarnya hasil kajian evaluasi yang dilakukan tim Pertamina sebelum melakukan inestasi saham di BMG Australia, namun pembayarannya sudah dilunasi oleh Pertamina.

“Justru itu makanya itu persoalan ada di sana. Hasilnya belum keluar tapi sudah langsung dibayar, padahal sblm dibayar perusahaan itu nyaris tutup itulah persoalannya,” jelasnya.

Atas hal itu, kata Prasetyo, negara dirugikan Rp 500 miliar lebih dan kini uang tersebut hilang akibat investasi yang tidak cermat.

“Sehingga akhirnya dirugikan 500 miliar lebih dan uang itu akhirnya hilang sekarang. Siapapun oramg terlibat akan diproses,” tutupnya.

Sebelumnya, Kejaksaan Agung akhirnya menetapkan Mantan Direktur Utama PT Pertamina persero Karen Galaila Agustiawan sebagai tersangka

Kasus dugaan korupsi penyalahgunaan investasi pada Pertamina di Blok Basker Manta Gummy (BMG) Australia tahun 2009 yang merugikan negara Ro 568 miliar.

Penetapan tersangka Karen Agustiawan berdasarkan Surat Perintah Penetapan Tersangka Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Nomor: Tap-13/F.2/Fd.1/03/2018 tanggal 22 Maret 2018.

Selain menetapkan Karen Galaila Agustiawan, kata Moh Rum, penyidik juga menetapakan dua tersangka lainnya yakni, Genades Panjaitan selaku Chief Legal Councel and Compliance PT. Pertamina (persero) berdasarkan Surat Perintah Penetapan Tersangka Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Nomor: Tap-14/F.2/Fd.1/03/2018 tanggal 22 Maret 2018.

Lalu Frederik Siahaan mantan Direktur Keuangan PT. Pertamina (persero) berdasarkan Surat Perintah Penetapan Tersangka Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Nomor: Tap-15/F.2/Fd.1/03/2018 tanggal 22 Maret 2018.

Dalam kasus ini penyidik sebelumnya telah menetapkan tersangka BK, mantan Manager Merger & Acquisition (M&A) Direktorat Hulu PT. Pertamina (Persero) berdasarkan Surat Perintah Penetapan Tersangka Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Nomor: TAP-06/F.2/Fd.1/01/2018 tanggal 23 Januari 2018.

Kasus itu berawal pada 2009 PT Pertamina (Persero) telah melakukan kegiatan akuisisi (Investasi Non Rutin) berupa pembelian sebagian asset (Interest Participating/ IP) milik ROC Oil Company Ltd di lapangan Basker Manta Gummy (BMG) Australia berdasarkan Agreement for Sale and Purchase-BMG Project tanggal 27 Mei 2009.

Dalam pelaksanaanya ditemui adanya dugaan penyimpangan dalam pengusulan Investasi yang tidak sesuai dengan Pedoman Investasi dalam pengambilan keputusan investasi tanpa adanya Feasibility Study (Kajian Kelayakan) berupa kajian secara lengkap (akhir) atau Final Due Dilligence dan tanpa adanya persetujuan dari Dewan Komisaris, yang mengakibatkan peruntukan dan penggunaan dana sejumlah USD 31,492,851 serta biaya-biaya yang timbul lainnya (cash call) sejumlah USD 26,808,244 tidak memberikan manfaat ataupun keuntungan kepada PT. Pertamina dalam rangka penambahan cadangan dan produksi minyak Nasional yang mengakibatkan adanya Kerugian Keuangan Negara cq. PT. Pertamina sebesar USD 31,492,851 dan USD 26.808.244 atau setara dengan Rp568.066.000.000 sebagaimana perhitungan Akuntan Publik.(Lan/fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...