Ayah-Ibunya Gangguan Jiwa, Bocah Ini Butuh Bantuan untuk Sekolah

Sabtu, 7 April 2018 - 05:55 WIB
Reno (8) dan ayahnya, Mimin (50). (Foto IST)

Kisah tragis dialami oleh satu keluarga di Dusun Gajah Timur 4 Kampung Kota Gajah Timur kecamatan Kota Gajah, Lampung Tengah. Keluarga ini adalah Mimin (50) dan istrinya Pujiah (50) yang menderita gangguan jiwa.

=================

KEDUANYA hidup dengan kondisi memprihatinkan dengan seorang anak Reno (8) yang tak bisa sekolah. Kondisi rumah keluarga ini juga memprihatinkan. Jauh dari kata layak dan membutuhkan bantuan para dermawan.

Brigpol Andri Puji Hartanto bersama Mimin (tiga dari kiri), Reno (kaos putih) dan Pujiah bersama pamong setempat di depan rumahnya. (Foto: Istimewa for radarlampung.co.id)

Sehari-hari, Reno yang seharusnya bersekolah, hanya bisa bermain di sawah, berenang di irigasi dan rumahnya yang tak layak.

Kondisi rumah Reno dan orang tuanya terdiri dari dua sekat. Satu kamar untuk tidur sekaligus merangkap WC. Satu lagi bagian ruang tamu untuk memasak oleh Pujiah yang mengaklami gangguan jiwa.

Beruntung, seorang Bhabinkamtibmas di Kotagajah Timur yakni Brigpol Andri Puji Hartanto mau turun tangan. Dia sudah sejak beberapa tahun terakhir berusaha membantu Mimin dan keluarganya untuk bisa hidup lebih layak.

Sejak Februari lalu, Puji berinisiatif menggalang donasi. Selain bergerilya dari rumah ke rumah, Puji juga membuka donasi lewat Facebook.

Dihubungi radarlampung.co.id, Puji menceritakan, keluarga ini sudah mengalami kondisi memprihatinkan sejak 10 tahun lalu. Mimin dan Pujiah memiliki empat orang anak. Sang anak tertua diambil orang dan disekolahkan di Pulau Jawa. Lalu, anak kedua dan ketiganya meninggal dunia. Tinggal Reno yang bersama mereka.

“Sudah sejak 10 tahun lalu mereka hidup miskin begini. Saat saya masuk sekitar 8 tahun jadi Babinkamtibmas, sudah begini. Namanya mengalami gangguan jiwa, jadi agak sulit. Si Reno nggak boleh sekolah oleh Mimin dan istrinya. Alasannya, Reno boleh sekolah kalau rumahnya sudah bagus,” ungkapnya.

Mimin menurut Puji, sebelumnya bekerja sebagai buruh bangunan. Awalnya, Pujiah mengalami gangguan jiwa karena depresi tak kuat melihat tetangganya membeli barang-barang berharga.

“Awalnya dia orangnya selalu kepikiran kalau tetangga beli-beli barang. Akhirnya sakit jiwa. Kalau ngamuk, rumahnya dihancurkan dengan dilempar batu. Tapi tidak mengamuk ke orang lain. Sedangkan Mimin, ikut mengalami gangguan jiwa karena depresi melihat istrinya itu,” tuturnya.

Kondisi ini membuat keluarga ini hidup sulit. Bahkan, Mimin dilarang tidur dalam rumah oleh Pujiah. Maka, Mimin tinggal di gudang samping rumah.

“Kondisi tempat tidur Mimin tak lebih baik dari kandang kambing. Miris sekali. Sedangkan Pujiah namanya sakit jiwa, tidur, buang air besar semuanya di kamar. Dia masak di ruang tamu. Reno yang paling kasihan. Dia pergi ke sana kemari untuk mencari makan meminta belas kasihan tetangga,” terangnya.

Sejak membuka donasi pad Februari lalu, kata Puji, mulai banyak yang bersimpati. Bantuan diantaranya datang dari pengusaha setempat yakni uang Rp1,5 juta. Juga bantuan pasir, semen dan kayu untuk membangun rumah Mimin. Dari donasi di Facebook, sambung Puji, hingga Kamis (5/4) sudah terkumpul Rp2.050.000.

“Alhamdulilah sudah mulai banyak yang mau membantu. Terkumpul uang Rp1.500 ribu langsung dari door to door. Juga bantuan material, batu, pasir, semen, kayu kusen. Sedangkan dari Facebook terkumpul Rp2.050.000. Rencananya, kami akan membedah rumah Mimin agar bisa tinggal lebih layak,” ucapnya.

Namun bukan perkara mudah meyakinkan dua orang yang mengalami gangguan jiwa untuk diperbaiki rumahnya. Kata Puji, warga pun ketakutan dan rencana membedah rumah terkendala.

“Namanya orang kurang waras, banyak warga yang ngeri. Akhirnya, diputuskan hasil musyawarah, kami akan membangun rumah di depan rumah Mimin. Jadi setelah nanti jadi, mereka akan kami pindahkan. Dan rumah yang ada saat ini kita bongkar. Sudah mulai kita bersihkan persiapan membangun rumah. Kita mulai dengan membuat batako dulu,” tandasnya.

Terkait Reno, sambung Puji, pihaknya juga mengusahakan untuk bisa sekolah tahun ini. Awalnya, Mimin berkeras agar Reno tak sekolah, namun sudah diyakinkan akhirnya boleh disekolahkan.

“Mimin sudah kami bujuk jika Reno akan kami sekolahkan. Dengan imbalan, rumahnya diperbaiki, dibangun. Akhirnya mereka setuju,” ucapnya.

Rencananya, Reno akan disekolahkan di SDN 5 Kotagajah, Dusun Kota Gajah Timur, Lamteng. “Kami sudah bicara dengan pihak sekolah, dan dewan guru SDN 5 sepakat, semester genap nanti Reno bisa mulai sekolah. Dalam enam bulan ke depan, jadi uji coba untuk Reno sekolah. Mudah-mudahan berhasil,” tuturnya.

Meski begitu, bantuan untuk membangun rumah keluarga ini dan membantu Reno sekolah masih dibutuhkan. Bantuan Donasi Dapat ditransfer melalui Penggalangan Dana Brigpol Andri Puji Hartanto Rek Mandiri No.rek 114.00.1166.9762, Contact Person 085379828282 jika memerlukan informasi lanjut atau ingin melihat ke lokasi. “Semoga bantuan yang saudara-saudar berikan dapat meringankan beban dan menjadi amal ibadah buat kita semua,” pungkas Andri Puji Hartanto. (rlo/gus)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.