Beberkan Rahasia Penyidikan, Brigjen Aris Langgar Kode Etik KPK?


FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Direktur Penyidikan Komisi Pemberantasan Korupsi, Aris Budiman tiba-tiba geram karena dituding sebagai ‘Kuda Troya’ oleh sejumlah penyidik internal KPK. Ini karena dia membela anak buahnya yang masuk kembali menjadi penyidik, kendati telah melampaui masa tugas selama 10 tahun lamanya di lembaga antirasuah.“Saya adalah ‘Kuda Troya’ bagi oknum-oknum yang memanfaatkan kesucian KPK untuk kepentingan pribadi,” kata Aris, usai menghadiri acara pelantikan Deputi Penindakan dan Direktur Penuntutan KPK, di Jakarta, Jumat (7/4) kemarin.Usai menyatakan dirinya sebagai ‘Kuda Troya’ jenderal bintang satu tersebut tiba-tiba mengumbar rahasia penyidikan proyek korupsi e-KTP yang perkaranya masih disidik dan dituntut oleh KPK.Menurutnya, proses korupsi e-KTP sempat mangkrak selama dua tahun lamanya sebelum dirinya masuk menjabat sebagai Direktur Penyidikan KPK pada tanggal 16 September 2015″Saya masuk 16 September 2015 perkara (e-KTP) berjalan dua tahun, semuanya anda liat seperti sekarang ini,” tuturnya.Namun, usai dirinya masuk ke lembaga antirasuah, berkat adanya bantuan dari Direktur Penuntutan Supardi yang meminta anak buahnya ikut menyidik perkara dugaan korupsi senilai Rp 5,9 triliun, perkara ini ini bisa berjalan hingga tahap penuntutan.”Dirtut pak Pardi, minta ke saya supaya masukkan penyidik dari penuntut, lalu saya masukkan. Dan semuanya anda lihat seperti sekarang ini,” ungkapnya.Aris menuturkan, dalam penyidikan kasus e-KTP, menurutnya, ada sesuatu hal yang janggal, karena saksi kunci mendiang Johannes Marliem tidak pernah diperiksa. Selain itu, tak digeledahnya PT Bimorf perusahaan Marliem yang notabennya terlibat dalam proyek e-KTP, juga membuat dirinya geram, karena menurutnya sudah ada surat penggeledahannya.

Komentar

Loading...