Polisi Dalami Jaringan Prostitusi Online di Aceh

Sabtu, 7 April 2018 - 15:28 WIB

FAJAR.CO.ID, ACEH – Wajah Aceh nampaknya tengah tercoreng. Pasalnya beberapa waktu lalu, terungkap adanya prostitusi online di bumi serambi mekah itu.

Wakapolda Aceh Brigjen Pol Supriyanto Tarah menerangkan, kasus ini sudah ditangani Polresta Banda Aceh. Saat ini, tengah dalam penyidikan. “Kita dalami apakah ada kaitan dengan jaringan di luar Aceh,” ujarnya saat berbincang di Polda Aceh, Aceh, Sabtu (7/4).

Sementara pihaknya agak kesulitan menemukan para penikmat wanita tuna susila itu. Sebab saat sang mucikari MRS alias Andre (28) bersama tujuh wanita ditangkap di sebuah hotel di Jalan Soekarno-Hatta, Aceh Besar, Rabu (21/3), tidak ditemukan si pemesannya.

“Memang kita agak sulit karena tidak ada klien yang didapat, hanya pelaku-pelaku saja dan belum terjadi,” kata Yanto.

Soal bagaimana pola pemesanan prostitusi online, menurut dia, tidak berbeda dengan daerah-daerah lainnya yang menggunakan aplikasi. “Cuma spesifikasinya karena ini terjadi di daerah syariah ini yang menjadi atensi kita,” tambah jenderal bintang satu itu.

Untuk si penjaja kenikmatan sendiri,  beberapa datang dari wilayah si luar Aceh. Namun Yanto enggan membeberkan secara rinci. “Dari pendatang ada, dari luar Aceh, usia muda-muda tapi sebagian pendatang,” tuturnya.

Di samping itu, Yanto mengaku meyesalkan adanya prostitusi online di Aceh. “Yang jelas kita juga prihatin karen Aceh sebagai daerah syariah terjadi prostitusi online ini,” pungkasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, MRS alias Andre (28) ditangkap bersama tujuh wanita ditangkap di sebuah hotel di Jalan Soekarno-Hatta, Aceh Besar, Rabu (21/3). Andre mengaku sudah tiga tahun terakhir atau sejak 2016 menjalankan bisnis syahwat berbasis online di Aceh.

Dalam melakukan bisnisnya, Andre mengaku tidak pernah mengajak langsung para perempuan tuna susila itu. Mereka yang kebanyakan berstatus mahasiswi itu sebelumnya memang sudah berprofesi sebagai PSK.

Andre menjelaskan, pemesanan kamar hotel dilakukannya sendiri setelah memastikan transaksi sesuai kesepakatan. Dia mengaku tidak ada kerja sama dengan pihak hotel saat melakukan check in.

Kebanyakan pelanggan memesan perempuannya di atas pukul 23.00 WIB hingga pagi. Lamanya tergantung dari pesanan yang diinginkan.

Sementara itu, dia mengatakan tidak mengenal latar belakang setiap pelanggannya. Mereka hanya melakukan transaksi secara online. (dna/JPC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *