Gus Amad, Pemuda Penghafal Alquran Tanpa Kaki dan Tangan

Minggu, 8 April 2018 - 06:03 WIB
Muhammad Wahyono saat dikunjungi Ketua Tim PKK Batang, Uni Kuslantasi Wihaji. (Foto: Luthfi Hanafi/Radar Semarang)

Adalah Muhammad Wahyono, pemuda 20 tahun yang tetap bersemangat berbagi ilmu agama Islam kepada orang lain meski tidak punya kedua tangan dan kedua kaki.

=================
LUTFI HANAFI, Batang
=================

MUHAMMAD Wahyono tercatat sebagai warga Dusun Kebonagung, Desa Kembangan, Kecamatan Blado, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Di desanya, pria kelahiran 28 Februari 1998 ini akrab disapa Gus Amad.

Sejak lahir, Wahyono sudah tidak memiliki tangan dan kaki. Dia adalah bungsu dari 9 bersaudara. Kedua orangtuanya, Darsono dan Warni telah lama berpulang.

Sejak ditinggal orang tua, Wahyono yang memang tak bisa melakukan apa-apa itu dirawat oleh semua kakak-kakaknya. Namun, karena mereka tinggal berjauhan, maka Wahyono lebih sering diasuh dan dirawat oleh kakak kedelapannya, Saudi.

Dari Saudi pula Wahyono belajar membaca huruf latin dan mengaji. Ketika sudah lancar membaca Alquran, Wahyono diajak Saudi menyantri di Pesantren Miftahul Huda di Boja, Kendal.

Di pesantren itu, Wahyono langsung dibimbing oleh KH Hasyim Masduqie yang dikenal sebagai hafiz atau penghafal Alquran. Selanjutnya, Wahyono terus mengasah kemampuannya menghafal kitab suci umat Islam itu.

Selain memiliki kemampuan menghafal Alquran, Wahyono juga punya suara yang bagus untuk melantunkan selawat. Karena itu pula Wahyono sering diundang orang untuk mengisi acara-acara seperti mauludan atau hajatan lainnya.

Memiliki tubuh yang tidak sempurna tapi punya kemampuan yang luar biasa membuat Wahyono sering dikunjungi orang. Di kampungnya, hampir sepanjang hari rumahnya tak sepi dari tamu dengan niat dan tujuan masing-masing.

Karena tidak memiliki tangan dan kaki, Wahyono dalam aktivitas sehari-hari dibantu Saudi yang siap mengantar ke mana pun adiknya pergi. Kadang Saudi mendorong Wahyono yang duduk di kursi roda, tapi sering juga menggendongnya untuk menghadiri majelis–majelis pengajian maupun belajar.

“Saya tidak mengajar mengaji Alquran, tapi saya berusaha untuk belajar bersama–sama untuk selalu mendekatkan dengan Sang Khaliq yang menciptakan kita,” katanya merendah.

Meski sulit berjalan, Wahyono tak pernah absen untuk salat berjemaah di masjid terdekat. Tanpa ragu. Wahyono menggelindingkan tubuhnya agar sampai ke saf.

Saat mendirikan salat, Wahyono lebih memilih berbaring karena akan lebih memudahkannya. Banyak orang kagum terhadap ketaatan pemuda yang pernah belajar Alquran di pndok pesantren milik Ustaz Yusuf Mansur itu dalam menjalankan ibadah.

Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Batang Uni Kuslantasi Wihaji yang mengunjungi Wahyono pun ikut kagum. Uni menyebut Wahyono yang punya kekurangan secara fisik justru sebagai sosok istimewa yang bermanfaat bagi banyak orang.

“Kita seharusnya introspeksi betapa kayanya kita yang memiliki kesempurnaan fisik dari ujung kaki sampai rambut, tapi terkadang kita lupa dengan semunya,” ujarnya.(*/aro)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.