Habis Dicabuli, Rifki Dibunuh

FAJAR.CO.ID, SAMARINDA  –  Kisah kepergian tragis Muhammad Rifki Pratama, santri di pondok pesantren (ponpes) di Samarinda, bakal membuka tabir baru. Sejak dipastikan meninggal, Senin (2/4) lalu, hasil autopsi rumah sakit belum juga sampai ke polisi. Santer terdengar, remaja 13 tahun itu merupakan korban pelecehan seksual.

Kaltim Post berupaya mencari kebenaran informasi yang diperoleh dari beberapa sumber yang identitasnya tak ingin disebutkan. Di tubuh Rifki, ada kejanggalan di bagian lubang dubur remaja yang bercita-cita sebagai pilot tersebut.

Di bagian tersebut, remaja yang duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP) kelas VIII itu seperti bekas kemasukan benda tumpul. Karena belum mengantungi hasil pemeriksaan mendalam dari dokter forensik, tak ada yang berani berkomentar terkait luka tersebut.

Yang ditemukan di tubuh Rifki, seolah membuka “buku dosa” yang juga pernah terjadi di ponpes yang sama tahun lalu. Pada November 2017, sekitar 15 santri menjadi korban kebiadaban MF, santri di ponpes tersebut.

Kasus kelainan seksual itu terbongkar setelah seorang korbannya, Boy (bukan nama sebenarnya), bercerita ke orangtuanya. Bahkan, enam korban lainnya sempat kabur dari ponpes dan menolak kembali karena trauma jadi korban hasrat seksual menyimpang MF. Terakhir kali dilakukan MF pada Minggu 29 Oktober 2017.

Kini MF menjalani masa hukuman di Lembaga Pemasyarakatan Khusus Anak (LPKA) Tenggarong. Remaja yang menjalani sidang di Pengadilan Negeri (PN) Samarinda itu divonis 18 bulan. Dugaan kuat, karena MF saat itu masih di bawah umur. Karena pada saat melakukan hubungan terlarang tersebut, usianya masih 17 tahun.

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Redaksi M1


Comment

Loading...