Habis Dicabuli, Rifki Dibunuh

Minggu, 8 April 2018 - 21:14 WIB

FAJAR.CO.ID, SAMARINDA  –  Kisah kepergian tragis Muhammad Rifki Pratama, santri di pondok pesantren (ponpes) di Samarinda, bakal membuka tabir baru. Sejak dipastikan meninggal, Senin (2/4) lalu, hasil autopsi rumah sakit belum juga sampai ke polisi. Santer terdengar, remaja 13 tahun itu merupakan korban pelecehan seksual.

Kaltim Post berupaya mencari kebenaran informasi yang diperoleh dari beberapa sumber yang identitasnya tak ingin disebutkan. Di tubuh Rifki, ada kejanggalan di bagian lubang dubur remaja yang bercita-cita sebagai pilot tersebut.

Di bagian tersebut, remaja yang duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP) kelas VIII itu seperti bekas kemasukan benda tumpul. Karena belum mengantungi hasil pemeriksaan mendalam dari dokter forensik, tak ada yang berani berkomentar terkait luka tersebut.

Yang ditemukan di tubuh Rifki, seolah membuka “buku dosa” yang juga pernah terjadi di ponpes yang sama tahun lalu. Pada November 2017, sekitar 15 santri menjadi korban kebiadaban MF, santri di ponpes tersebut.

Kasus kelainan seksual itu terbongkar setelah seorang korbannya, Boy (bukan nama sebenarnya), bercerita ke orangtuanya. Bahkan, enam korban lainnya sempat kabur dari ponpes dan menolak kembali karena trauma jadi korban hasrat seksual menyimpang MF. Terakhir kali dilakukan MF pada Minggu 29 Oktober 2017.

Kini MF menjalani masa hukuman di Lembaga Pemasyarakatan Khusus Anak (LPKA) Tenggarong. Remaja yang menjalani sidang di Pengadilan Negeri (PN) Samarinda itu divonis 18 bulan. Dugaan kuat, karena MF saat itu masih di bawah umur. Karena pada saat melakukan hubungan terlarang tersebut, usianya masih 17 tahun.

Kasus sodomi lain yang juga pernah menggemparkan ibu kota Kaltim adalah perkara yang disidik Satreskrim Polresta Samarinda terhadap tersangka Fitriansyah alias Papat. Pria 33 tahun yang sudah menyodomi puluhan bocah di Kota Minyak, khususnya mereka yang sudah putus sekolah. Predator anak itu pun telah beberapa kali merasakan dinginnya lantai penjara dengan kasus serupa.

Fenomena kasus pelecehan seksual itu seolah menjamur. Di beberapa kota, seperti yang terjadi di sebuah ponpes di Kabupaten Asahan, Sumatra Utara. Mei 2017, oknum guru ponpes di sana terpaksa mendekam di jeruji besi.

Selain sekolah berbasis agama, sekolah umum juga tak lepas dari kasus tersebut. Awal Januari lalu, WS alias Babeh, guru honorer di sebuah SD di Rajeg, Kabupaten Tangerang, Banten, diringkus jajaran Polres Tangerang lantaran dilaporkan menyodomi sekitar 25 anak di bawah umur.

Kembali ke Rifki, belum diketahui pasti apakah pelajar asal Sangatta, Kutim, itu adalah satu dari sekian banyak korban MF, atau adakah pelaku baru dalam dunia pendidikan tersebut. Dikonfirmasi terpisah, perihal kejanggalan terkait temuan di tubuh Rifki, Kapolresta Samarinda Kombes Vendra Riviyanto tak menampik hal tersebut. “Ya, seperti cincin begitu sudah bentuknya,” sebut alumnus Akpol 1995 itu. Vendra menuturkan, sejauh ini, dia tak ingin mengganggu kesedihan keluarga almarhum.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polresta Samarinda Kompol Sudarsono mengatakan, terkait hasil autopsi pemeriksaan Rifki, perwira melati satu itu menyebut belum diketahui. “Nanti dari rumah sakit biasanya berkirim surat ke kami,” ujar perwira melati satu tersebut.

Sumber tepercaya media ini di internal rumah sakit pelat merah menduga, masih ada korban lain selain Rifki di ponpes. Terkait perkara lain (pelecehan seksual), Sudarsono menyebut belum bisa memastikan penelusuran kasus lain. “Fokus dulu penganiayaannya,” tegas Sudarsono.

Selasa (3/4), polisi menetapkan remaja berinisial RE, rekan korban, sebagai tersangka. Di depan aparat, pelajar itu mengakui penganiayaan seperti yang diadukan Santi, ibu dari Rifki.

Diperiksa di Ruang Jatanras Satreskrim Polresta Samarinda, pelajar bertubuh kurus dengan rambut cepak itu terlihat santai. Kepada polisi, RE mengaku, penganiayaan itu terjadi pada 21 Maret 2018 di lingkungan ponpes. Hal itu didasari persoalan uang Rp 85 ribu. RE menuding korban telah mengambil uang tersebut.

Penetapan RE sebagai tersangka setelah polisi memeriksa sembilan saksi dari siswa di ponpes tersebut. “Ada saksi yang memperkuat dia (RE) jadi tersangka. Sebab, perkelahian itu sempat dilerai rekannya,” imbuhnya. RE langsung dijemput polisi berpakaian sipil di ponpes tempat dia sekolah. “Dia mengakui semuanya. Empat kali pukulan dengan tangan kosong,” jelas Sudarsono.

Meski telah menetapkan tersangka, kata Sudarsono, belum bisa dipastikan apakah pemukulan tersebut yang menyebabkan korban tewas. “Makanya, kami tunggu hasil visum dari dokter forensik. Yang jelas, dia (RE) mengakui pemukulan,” imbuhnya. Hasil pemeriksaan dokter, ada memar di kepala belakang dan bawah telinga.

Akibat ulahnya, RE dijerat dengan Pasal 351 Ayat 3 KUHP tentang Penganiayaan yang Menyebabkan Hilangnya Nyawa, dengan ancaman kurungan di atas lima tahun penjara. Adapun Rifki sempat tersadar dari koma. Rifki sempat bercerita dengan suara yang tertatih-tatih kepada Santi, ibunya. Santi mendengar jelas nama RE yang disebutkan anaknya adalah si penganiaya.

Setelah dugaan penganiayaan itu, Rifki dibawa ke RSUD AW Sjahranie Samarinda pada Rabu (28/3). Namun, keterangan yang diperoleh keluarga, pelajar 13 tahun itu mengalami sakit bisul di hidung. Anehnya, dua mata Rifki lebam seperti dipukul dengan tangan kosong.

Nahas, setelah lima hari berjuang, dan sempat beberapa kali kondisinya membaik, nyawa remaja yang memiliki cita-cita menjadi pilot itu tak tertolong. Pelajar asal Sangatta, Kutai Timur (Kutim), tersebut meninggal Senin (2/4) sekitar pukul 05.20 Wita, setelah sempat menjalani perawatan tim dokter.

Keluarga meminta dokter forensik rumah sakit melakukan autopsi terhadap tubuh Rifki. “Keluarga ingin semua penyebabnya jelas,” ujar Santi. Rifki sudah dikebumikan tak jauh dari rumahnya di kawasan Kelurahan Singa Gembara, Sangatta Utara, Kutim, sehari setelah meninggal. (*/dra/rom/k8)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *