Aksi Protes Kenaikan Harga BBM Kini seperti Gonggongan Anjing

Senin, 9 April 2018 - 05:18 WIB
aksi protes mahasiswa terhadap kenaikan bbm. (foto: dok jawapos)

Rasa kecewa masyarakat terhadap pencabutan subsidi listrik 90 VA belumlah terobati. Kali ini rakyat kembali terhenyak mendapati kenyataan harga BBM nonsubsidi naik.

===============

KENAIKAN yang terkesan diam-diam membuat masyarakat kaget saat mengisi BBM di SPBU. Konsumen baru tahu, Pertalite naik setelah menerima uang kembalian dari petugas SPBU. Hendak marah sama petugas SPBU? Akhirnya menggerutu sambil berlalu.

Ternyata kenaikan Pertalite Rp 200 per liter ini telah terjadi sejak 24 Maret 2018 lalu. Padahal 20 Januari 2018, Pertamina telah menaikkan Pertalite Rp 100 per liter menjadi Rp 7.600 per liter. Sekarang naik lagi Rp 200 jadi Rp 7.800 per liter.

Mirisnya, seiring kenaikan Pertalite, Premium pun langka. Tak heran muncul anggapan, pemerintah perlahan-lahan menghilangkan BBM bersubsidi dan akhirnya masyarakat terpaksa membeli BBM nonsubsidi. Artinya, kaya miskin, mampu tak mampu harus beli BBM nonsubsidi.

Nyaris luput dari pemberitaan media apalagi pengumuman dari pemerintah sendiri di media massa beberapa hari sebelum naik. Karena diam-diam, gejolak pun seakan bisa diredam.

Mahasiswa baru bangkit menggelar demo sepekan setelah kenaikan. Meski mengatasnamakan BEM seluruh Indonesia gelombang demo tidak serentak seluruh Indonesia. Sebelumnya mahasiswa di Solo menggelar demo, lalu BEM Riau. Rabu (4/4), giliran BEM Sumbar.

Mereka bersuara di daerah padahal kebijakan ada di Pemerintah Pusat. Andaikan gelombang demo BEM seluruh Indonesia bergerak ke Istana mungkin gemanya akan langsung sampai ke Presiden.

Orde pemerintah sebelumnya, jauh-jauh hari sebelum menaikkan BBM, pemerintah sudah melakukan sosialisasi. Bahkan pernah di era Presiden sebelumnya, kenaikan BBM dibatalkan karena mendapat protes dari masyarakat.

Namun kini masyarakat maupun mahasiswa seolah tak berdaya. Bersuara tapi seperti anjing menggonggong kafilah berlalu.

Hampir sepekan setelah aksi-aksi demo, tuntutan-tuntutan yang mereka sampaikan belum dikabulkan. Mareka mendesak pemerintah menurunkan BBM nonsubsidi dan menambah kuota premium dan biosolar. Selain itu juga meminta pemerintah daerah mengembalikan persentase pajak daerah soal bahan bakar kendaraan bermotor menjadi 5 persen.

Untungnya, kenaikan BBM nonsubsidi ini tidak atau belum berdampak kepada yang lainnya. Semoga saja, tidak berpengaruh kepada ongkos angkutan umum, harga barang dan sembako.

Kenaikan Pertalite walau hanya Rp 200 jika dikalikan sekian liter dan sekian hari jumlahnya besar juga. Hitung saja berapa penambahan cost untuk beli BBM selama sebulan. Jika masyarakat berpendapatan pas-pasan ini jelas membebani. Apalagi kalau Premium yang nota bene BBM bersubsidi kerap langka di SPBU. Otomatis tak ada pilihan selain beli Pertalite untuk sepeda motor.

Kenaikan harga BBM ini seiring gonjang ganjing harga sembako akhir-akhir ini. Harga cabai yang rentan naik, kini masih berada di level “pedas” kisaran Rp 40 ribuan per kilogram. Bawang merah ikut-ikutan naik, kini mencapai Rp 30 ribu per kilogram. Ikan, sejak badai dan bulan terang, masih sedikit stoknya di pasaran. Otomatis harganya terbilang mahal.

Ditambah kenaikan BBM, membuat kalangan menengah ke bawah semakin tepar. Sebentar lagi bulan Ramadhan. Harga-harga kebutuhan harian biasanya rentan bergejolak, kadang tak terkendali. Kondisi ini membuat masyarakat kian ngos-ngosan bertahan hidup yang semakin mahal.

Kalau sudah seperti ini pantas dipertanyakan program pemerintah yang prorakyat. Jangan biarkan akibat kebijakan yang salah kaprah membuat kesenjangan semakin menganga antara rakyat Indonesia. Sudah seharusnya pemerintah membuka mata dan telinga lebar-lebar melihat dan mendengar suara-suara seluruh rakyat Indonesia.

Pemerintah daerah sebagai perpanjangan tangan Pemerintah Pusat jangan hanya melihat dari jauh atau pura-pura tak mendengar rakyat berteriak menyampaikan keluhan dan aspirasinya. (suryani/padang ekspres/fajar)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.